Oleh: M. Muhar Omtatok
✅ Membaca Tren dan Fleksibel
Dalam dunia usaha ada
frasa bahwa “Bisnis yang menang bukan yang besar atau tua, tapi yang paling cepat
membaca tren dan menyesuaikan strategi”.
Membaca tren (trend)
berarti peka terhadap perubahan pasar. Tren bisa berupa perubahan perilaku
konsumen, perkembangan teknologi digital, model bisnis baru misalnya dari
offline ke online, serta membaca dampak dan strategi saat krisis global semisal
pandemi, ekonomi, atau geopolitik.
Contoh nyata bisa
dilihat pada bisnis kuliner yang membaca tren “makanan sehat” atau “plant-based” lebih cepat mengembangkan
menu baru. Atau toko pakaian yang melihat tren “thrifting” mulai menjual produk second-hand secara online.
Sikap fleksibel juga
penting, sebagai bentuk cepat beradaptasi, artinya usaha tidak kaku pada cara
lama. Berani mengubah produk, layanan, sistem kerja, bahkan strategi pemasaran.
Coba saja perhatikan
selama pandemi, banyak cafe yang beralih ke delivery service dan menjual produk dalam bentuk frozen food. UMKM yang semula hanya
jualan di pasar mulai buka toko di Shopee atau TikTok Shop karena
melihat pergeseran perilaku beli.
Dia yang bertahan
adalah Sustainable Business.
Usaha yang cepat membaca tren & fleksibel akan tetap relevan bagi
pelanggan, tidak ketinggalan pasar, serta lebih siap menghadapi krisis dan
kompetisi.
Sustainable
business merupakan bisnis berkelanjutan, inilah model
bisnis yang berfokus pada penciptaan nilai jangka panjang dengan
mempertimbangkan dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan dari operasi
bisnis. Bisnis berkelanjutan berupaya meminimalkan dampak negatif dan
memaksimalkan dampak positif pada lingkungan dan masyarakat, serta memastikan
keberlangsungan bisnis itu sendiri.
Sebagai perenungan
saja, ingatkah perusahaan besar dan berjaya, lalu gagal membaca
tren, seperti Kodak tertinggal karena tak mau masuk ke fotografi
digital. Nokia kehilangan pasar karena lambat berinovasi ke smartphone berbasis
Android.
Sehingga, dalam dunia
usaha, siapa yang mampu membaca arah tren pasar dan berani berubah, dialah yang
akan survive, bahkan mungkin tumbuh lebih cepat dari yang hanya diam dan
bertahan dengan cara lama.
✅ Fakta Pasar Food and Beverage
(F&B)
Menurut sebuah riset
2025, sektor F&B tetap tumbuh rata-rata 5–8% per tahun di Indonesia, meski
tidak secepat pra-pandemi. Di kota besar, urban lifestyle masih mendukung budaya jajan, ngopi,
nongkrong, delivery makanan, dan snacking. Tren konsumsi makanan &
minuman (F&B) tetap jadi kebutuhan utama.
✨ Pembanding sebelum tahun 2020–2022 dengan
setelah tahun 2023–2025
Sebelum tahun
2020–2022, tren kuliner di Indonesia sangat dipengaruhi oleh fenomena “dine-in
cantik”. Istilah ini merujuk pada pengalaman makan di restoran atau kafe dengan
suasana yang estetik, elegan, dan menarik secara visual, sehingga sering
dijadikan konten untuk media sosial. Banyak orang datang bukan hanya untuk
mencicipi makanan, tetapi juga untuk menikmati ambience yang indah, berfoto, lalu membagikannya secara daring.
Restoran dan kafe pun berlomba-lomba menghadirkan desain interior unik serta
konsep yang instagramable demi
menarik perhatian generasi muda yang konsumtif dan impulsif.
Namun, setelah memasuki
periode 2023–2025, fokus konsumen maupun pelaku usaha mulai bergeser. Tidak
lagi sekadar mengutamakan tampilan dan suasana, kini harga yang terjangkau dan
kenyamanan menjadi faktor utama. Tren membuka usaha F&B pun mengalami
transformasi: jika sebelumnya banyak orang terjun hanya karena gaya-gayaan atau
ikut-ikutan, kini semakin banyak yang benar-benar serius menekuni bisnis
kuliner. Potensi keuntungan dimatangkan dengan riset pasar, minat mendalam pada
dunia kuliner, serta keinginan kuat untuk membangun usaha berkelanjutan. Meski
begitu, hanya mereka yang mampu menjaga arus kas tetap sehat yang bisa bertahan
di tengah persaingan.
Perubahan perilaku
konsumen juga terlihat jelas. Jika dahulu lebih boros dan impulsif, pasca 2023
konsumen cenderung lebih rasional, selektif, dan mempertimbangkan nilai di
balik setiap pembelian. Dalam konteks ini, modal besar bukan lagi jaminan
keberhasilan; yang lebih menentukan adalah efisiensi, strategi pengelolaan cash flow, serta kelincahan dalam
menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar. Bisnis F&B yang dapat
menyeimbangkan kualitas produk, harga bersaing, dan manajemen keuangan yang
solid akan lebih mudah memenangkan hati konsumen sekaligus bertahan menghadapi
dinamika industri.
Efisiensi dan
kelincahan adalah dua konsep penting dalam menjalankan usaha yang saling
berkaitan. Efisiensi berfokus pada penggunaan sumber daya seminimal
mungkin untuk mencapai hasil maksimal, sedangkan kelincahan (agility) berkaitan dengan kemampuan
usaha untuk beradaptasi dengan perubahan pasar dan lingkungan bisnis yang
dinamis.
✅ Box Tips: Kunci Bertahan di Pasar Urban
M. Muhar (20023)
memperkenalkan Teori C2H2 yaitu
Cozy, Comfort, Homey & Hospitality,
dimana konsumen mencari resto, café atau coffee shop yang C2H2:
✨ Cozy itu
menggambarkan suasana resto, café atau coffee shop yang hangat, nyaman, dan
menyenangkan, seringkali dikaitkan dengan tempat atau ruangan yang terasa intim
dan menenangkan.
✨ Comfort merujuk
pada perasaan tenang, aman, dan senang, atau keadaan yang memberikan
ketentraman dan kelegaan jika berada dan menikmati produk di resto, café atau
coffee shop tertentu.
✨ Homey menekankan
pada suasana yang akrab, memberikan rasa aman, familiar, dan nyaman, bukan cuma
tentang lokasi dan tempat tapi orang yang ada di resto, café atau coffee shop
tersebut.
✨ Hospitality adalah sikap
ramah tamah dan pelayanan yang baik kepada tamu atau pelanggan, baik dalam
konteks pribadi maupun dalam industri bisnis resto, café atau coffee shop.
Tempat yang bersih,
wangi, dan nyaman, Jika memutar musik sebaiknya tidak terlalu keras agar tidak
terkesan "low class" dan
memberi nyaman konsumen yang ingin ngobrol, colokan cukup, dan ruang AC
jadi nilai tambah. Banyak orang nongkrong bersembang-sembang sambil
kerja, jadi Wi-Fi yang stabil sangat dihargai.
Pelayanan manusiawi,
senyum tulus, dan sapaan personal bikin pelanggan balik lagi. Konsumen suka
jika barista atau pelayan mengingat pesanan favorit mereka. Pengelola
semestinya mengajarkan staf untuk mengenali pelanggan tetap dan beri perhatian
kecil, dan seluruh staf wajib menjadikan resto, café atau coffee shop
sebagai “Smile and Friendliness Zone”.
·
Value
for Money (Nilai untuk Uang)
"Value for money" (VfM) bagi
konsumen adalah konsep dimana konsumen merasa puas karena mendapatkan manfaat
atau kualitas yang sepadan dengan harga yang mereka bayar untuk suatu produk
atau layanan. Ini berarti konsumen merasa uang yang mereka keluarkan
memberikan nilai yang baik, baik itu dalam bentuk kepuasan, fungsi, atau
manfaat.
Konsumen kini tidak
hanya mencari murah, tapi harga yang sepadan dengan rasa, porsi, pengalaman dan
penghargaan.
Misalmya harga
secangkir kopi Rp 25.000 akan dianggap wajar dan tidak mahal, asal konsumen
mendapatkan rasa, porsi, pengalaman dan penghargaan.
Memang ada juga segmen
konsumen yang mencari menu hemat atau paket bundling, tentu hal ini
diamati dari segmentasi konsumen kelas tertentu.
Bundling dalam
konteks bisnis dan pemasaran, artinya adalah strategi menggabungkan
beberapa produk atau layanan menjadi satu paket dengan harga
khusus. Tujuannya adalah untuk meningkatkan penjualan, mendorong pelanggan
membeli lebih banyak, dan memberikan nilai tambah bagi konsumen. Namun ini
bukan satu-satunya stategi pemasaran dan butuh disesuaikan dengan kondisi
sebuah resto, café atau coffee shop.
·
Cita
Rasa yang Konsisten
Konsistensi rasa
teramat sangat penting dalam usaha restoran, kafe, atau kedai kopi. Hal
ini akan meningkatkan loyalitas pelanggan, membangun brand awareness, dan
pada akhirnya, meningkatkan penjualan.
Konsumen sangat
menghargai rasa yang selalu sama setiap kali datang. Banyak pelanggan kecewa
ketika, misalnya “kopinya beda rasanya tiap minggu”.
·
Identitas
atau “Rasa Unik”
Istilah “identitas atau
rasa unik” dalam tren Food and Beverage (F&B) merujuk pada keunikan
karakteristik suatu produk atau merek yang membedakannya dari pesaing lain.
Dalam konteks menjaring pelanggan, konsumen sekarang tertarik pada tempat yang
punya cerita atau karakter.
Dalam ilmu pemasaran
dan psikologi konsumen, identitas atau rasa unik berhubungan dengan konsep:
✨a. Diferensiasi Produk (Product
Differentiation)
Teori ini menjelaskan
bahwa produk yang memiliki ciri khas unik (rasa, tampilan, narasi, asal bahan,
cara penyajian) akan lebih mudah dikenali dan diingat oleh konsumen, sehingga
meningkatkan kemungkinan pembelian ulang.
Philip Kotler
menyatakan bahwa salah satu strategi memenangkan pasar adalah melalui unique selling proposition (USP). USP
adalah alasan utama mengapa pelanggan memilih suatu produk atau layanan
tertentu, dan merupakan kunci untuk menarik perhatian dan membangun loyalitas
pelanggan.
✨b. Persepsi Nilai Konsumen (Consumer Perceived
Value)
Konsumen tidak hanya
membeli rasa, tapi juga pengalaman dan cerita di balik produk. Identitas yang
kuat memberikan emotional connection dan perceived added value.
Emotional
connection (keterikatan emosional) adalah hubungan
emosional yang terjalin antara seseorang dan suatu produk, layanan, atau
merek. Ini adalah ikatan yang terbentuk ketika konsumen merasa terhubung
secara emosional dengan suatu merek atau produk, yang seringkali didasarkan
pada nilai-nilai, pengalaman, atau cerita yang dibagikan.
Perceived
added value (nilai tambah yang dirasakan)
adalah persepsi konsumen tentang manfaat yang mereka peroleh dari suatu produk
atau layanan, melampaui fungsi dasarnya. Ini adalah evaluasi subjektif
dari seberapa berharganya suatu produk atau layanan bagi konsumen, dan
seringkali dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kualitas, harga, dan
pengalaman.
✨ Hubungan antara keduanya:
Keterikatan emosional dapat
secara signifikan memengaruhi nilai tambah yang dirasakan. Ketika
konsumen merasa terhubung secara emosional dengan suatu produk makanan atau
minuman, mereka cenderung memberikan nilai yang lebih tinggi pada makanan,
minuman atau layanan yang ditawarkan, bahkan jika harganya lebih mahal atau
fitur-fiturnya tidak jauh berbeda dengan produk pesaing.
✨ Dampak Identitas/Rasa Unik dalam F&B
a. Identitas
Merek (Brand Identity)
Rasa unik membantu
menciptakan identitas yang kuat dan unik untuk resto, café atau coffee
shop. Rasanya menjadi ciri khas yang mudah dikenali dan diingat oleh
pelanggan.
b. Rasa
Unik (Signature Taste)
Rasa khas yang unik
dapat menjadi pembeda utama antara bisnis Anda dengan kompetitor di pasar yang
ramai.
c. Daya
Tarik Pelanggan
Menu dengan rasa khas
yang menarik dapat menjadi daya tarik utama bagi pelanggan, membuat mereka
penasaran dan ingin mencoba.
d. Loyalitas
Pelanggan
Ketika pelanggan
menyukai rasa unik, mereka cenderung menjadi pelanggan setia, kembali lagi
untuk menikmati rasa yang sama.
e. Peluang
Promosi
Rasa unik dapat menjadi
bahan pembicaraan yang efektif, baik di media sosial maupun dari mulut ke
mulut, yang membantu promosi bisnis.
f. Margin
Keuntungan
Menu dengan rasa khas
yang unik biasanya dihargai lebih tinggi, memberikan margin keuntungan yang
lebih besar.
Identitas atau rasa
unik bukan hanya soal produk, tapi soal pengalaman menyeluruh yang dirasakan
pelanggan. Dalam dunia F&B yang sangat kompetitif, keunikan ini menjadi
alat diferensiasi yang kuat untuk menjaring pelanggan baru dan mempertahankan
pelanggan lama.
·
Efisiensi Operasional
Efisiensi operasional
dalam usaha F&B merujuk pada kemampuan bisnis untuk menghasilkan
produk atau layanan berkualitas tinggi dengan biaya yang minimal, waktu yang
efisien, dan penggunaan sumber daya yang optimal. Ini melibatkan berbagai
aspek seperti manajemen inventaris, proses pelayanan, pengelolaan keuangan, dan
penggunaan teknologi untuk meningkatkan produktivitas dan mengurangi
pemborosan.
✨ Pentingnya Efisiensi Operasional dalam
Usaha F&B:
a. Peningkatan
Profitabilitas
Efisiensi operasional
membantu mengurangi biaya produksi, pengelolaan, dan operasional lainnya,
sehingga meningkatkan margin keuntungan.
b. Peningkatan
Kepuasan Pelanggan
Pelayanan yang cepat
dan berkualitas, didukung oleh operasional yang efisien, dapat meningkatkan
kepuasan pelanggan.
c. Pengelolaan
Sumber Daya yang Lebih Baik
Efisiensi memungkinkan
penggunaan bahan baku, tenaga kerja, dan waktu secara optimal, mengurangi
pemborosan dan meningkatkan produktivitas.
d. Keunggulan
Kompetitif
Bisnis yang efisien
dapat menawarkan harga yang lebih kompetitif dan layanan yang lebih baik,
memberikan keunggulan di pasar yang kompetitif.
e. Adaptasi
Terhadap Perubahan Pasar
Bisnis yang efisien
dapat lebih mudah beradaptasi dengan tren dan perubahan pasar, serta menghadapi
tantangan dengan lebih baik.
✨ Contoh Penerapan Efisiensi Operasional
dalam Usaha F&B:
a. Sistem
POS (Point of Sale) Terintegrasi
Sistem POS (Point of
Sale) terintegrasi adalah sistem yang menggabungkan fungsi titik penjualan
dengan sistem bisnis lain seperti akuntansi, inventaris, CRM, dan
e-commerce. Integrasi ini memungkinkan otomatisasi alur data, pengurangan
entri manual, peningkatan akurasi, dan visibilitas bisnis yang lebih
baik. Dengan sistem terintegrasi, usaha dapat mengelola penjualan,
inventaris, dan data pelanggan secara lebih efisien.
b. Pengelolaan
Inventaris
Menerapkan sistem
pengelolaan inventaris yang efisien untuk mengurangi pemborosan dan memastikan
ketersediaan bahan baku.
Hal ini mencakup
seluruh siklus hidup barang, mulai dari pengadaan, penyimpanan, penggunaan,
hingga pembuangan atau penjualan. Pengelolaan inventaris yang efektif
memastikan ketersediaan barang yang tepat, pada waktu yang tepat, dan dalam
jumlah yang tepat, sehingga mendukung kelancaran operasional dan efisiensi
bisnis.
Tujuan utama
pengelolaan inventaris untuk memastikan ketersediaan barang, mengendalikan
biaya, meningkatkan efisiensi, mendukung pengambilan keputusan serta mencegah
kerugian.
c. Coaching Karyawan
Coaching karyawan
adalah proses pengembangan diri untuk membantu karyawan mencapai potensi
terbaik mereka, meningkatkan kinerja, dan mencapai tujuan
profesional. Coaching berfokus pada pengembangan keterampilan, pemahaman
diri, dan peningkatan kinerja karyawan, bukan hanya memberikan solusi atau
instruksi. Titik fokus adalah memastikan mereka dapat bekerja secara
efisien.
d. Pemanfaatan
Teknologi
Menggunakan teknologi
seperti aplikasi pemesanan online, sistem manajemen restoran, atau aplikasi
pengiriman untuk meningkatkan efisiensi.
e. Optimasi
Rantai Pasokan
Membangun rantai
pasokan yang efisien untuk memastikan ketersediaan bahan baku dengan biaya yang
optimal.
f. Standar
Operasional Prosedur (SOP)
Menerapkan SOP yang
jelas dan terperinci untuk memastikan semua proses berjalan lancar dan
konsisten.
g. Analisis
Data
Menganalisis data
penjualan dan operasional untuk mengidentifikasi area yang perlu ditingkatkan
dan membuat keputusan yang lebih baik.
·
Digital
Marketing yang Kuat
Dalam industri
restoran, café, dan coffee shop, digital marketing yang kuat sangat krusial
untuk membangun brand awareness, menarik pelanggan baru, dan mempertahankan
loyalitas pelanggan lama. Di era terbaru, tren digital marketing semakin
mengarah pada kreativitas, pengalaman visual, dan keterlibatan emosional.
Strategi digital
marketing terbaik untuk resto/café bukan hanya yang canggih, tapi yang relevan,
konsisten, dan menyentuh emosi serta kebiasaan harian pelanggan.
Berikut adalah strategi
dan elemen digital marketing yang paling kuat dan relevan saat ini:
a. Konten Visual (Foto & Video Short Form)
Tren Utama: Reels,
TikTok, dan YouTube Shorts
Konten visual lebih
cepat viral, saat ini ada kecenderungan ‘Orang makan dan minum dengan mata dulu
sebelum lidah’. Serta reels dan tiktok punya algoritma yang bisa menampilkan
konten ke ribuan non-follower.
Disini banyak cara
kreatif dan produktif, misalnya saja dengan tampilkan
proses F&B, Autonomous Sensory Meridian Response (ASMR), testimoni
pelanggan, behind-the-scenes, hingga penjelasan pakar yang kesannya bukan
menggurui tapi memunculkan kesan mendalam.
Gunakan trend audio dan
hashtag lokal, juga pertimbangkan editing yang estetik
serta natural.
b. Strategi Influencer, Food Vlogger Lokal
& Keterlibatan Emosional / Komunitas
Saat ini memaknai
influencer dan vlogger tidak harus yang punya kredibilitas sosial,
dengan jumlah followers banyak saja, karena followers juga bisa dibeli. Pihak
resto, café, coffee shop jika mampu dan mau, juga bisa membuat konten, asal
dibuat dengan pertimbangan matang dan kreatif serta menarik. Keterlibatan
emosional dari komunitas atau konsumen loyal dan layak, bisa didekati
untuk kegiatan pemasaran ini.
c. Google My Business (GMB) + Ulasan Google
Maps
Mayoritas orang mencari
resto, café, coffee shop lewat Google Maps, bukan lagi browser biasa. Ulasan
dan rating sangat menentukan keputusan berkunjung.
Karenanya, klaim GMB
Anda. upload foto dan jam operasional lengkap, serta minta pelanggan memberikan
review setelah makan.
d. Optimasi Instagram & TikTok Bisnis
Gunakan Bio Instagram
dengan link ke menu digital (contoh: Linktree, Sociabuzz, WhatsApp). Sorotan
(highlight) berisi: menu, promo, lokasi, testimoni, behind the scenes.
TikTok: konten
storytelling, baik asal-usul kopi, kisah barista, cerita pelanggan.
e. Digital Loyalty & Promo Campaigns
Alat & Teknik:
• Gunakan
aplikasi kasir seperti Moka, Majoo, atau Qasir yang terhubung ke loyalty dan
WhatsApp marketing.
• Buat
promo flash sale, kupon digital, atau QR-code untuk reward repeat customer.
f. WhatsApp & Telegram Marketing
(Hyperlocal Push)
Mengapa kuat?
• Open
rate WhatsApp > 80%, jauh di atas email.
• Cocok
untuk promo dadakan: “diskon 20% hari ini aja”, “Beli 1 gratis 1 jam 3–5 sore”.
Tips:
• Bangun
database nomor pelanggan.
• Kirim
info berkala yang tidak spammy.
g. Iklan Berbayar (Meta Ads + Google Ads)
• Instagram
& Facebook Ads:
• Targetkan
orang dalam radius 3–5 km.
• Gunakan
konten video/foto menu terbaik.
• Google
Ads:
• Gunakan
keyword seperti “cafe estetik di [nama kota]” atau “tempat ngopi nyaman dekat
sini”.
h. Menu Digital & Online Ordering
(GoFood/GrabFood/ShopeeFood)
Pastikan foto makanan
menarik & deskripsi singkat menggugah selera, lalu ikuti campaign dan promo
GoFood/GrabFood reguler. Kemudian cantumkan QR code menu digital di tempat dan
media sosial.
i. User Generated Content (UGC)
Cara kerjanya dengan
mengajak pelanggan membagikan pengalaman mereka di IG Story/Feed. Beri reward:
kopi gratis jika tag akunmu + pakai hashtag khusus. Repost konten pelanggan
untuk meningkatkan kepercayaan sosial.
j. Website atau Landing Page Sederhana
Fungsinya:
• Sebagai
pusat informasi resmi (menu, kontak, lokasi).
• Terhubung
ke reservasi atau pemesanan online.
• SEO-nya
bisa masuk Google saat orang mencari: “kopi terenak di [kota]”.
Di samping itu ada pula
tren lain, seperti:
• AI
Chatbot via WhatsApp/Instagram untuk pemesanan cepat.
• Augmented
Reality Menu (bisa dilihat di HP sebelum dipesan).
• TikTok
Live Cooking Show atau Q&A barista langsung di jam ramai.
✅ Persyaratan Karyawan Resto, Café, Coffee
Shop
Dalam industri
hospitality, termasuk Resto, Café, Coffee Shop: penampilan memang bisa
jadi nilai tambah, tetapi mental yang sehat, sikap positif, dan kecerdasan
emosional adalah kunci utama keberhasilan dan keberlangsungan layanan.
Dari perspektif
psikologi industri & organisasi, berikut pandangan ilmiahnya:
a. Good
Looking: Estetika vs Efektivitas Pelayanan
Teori
Psikologi: Halo Effect
Menurut psikologi
sosial, Halo Effect adalah bias kognitif di mana orang cenderung menganggap
seseorang yang menarik secara fisik juga lebih kompeten, ramah, atau cerdas.
Pelanggan cenderung
merasa nyaman atau lebih puas saat dilayani oleh karyawan yang menarik. Ini
bisa memberikan kesan pertama positif, terutama untuk first-time
customers atau tempat dengan konsep estetik (Instagrammable).
Hanya saja, rekrutmen
dan seleksi karyawan yang fokus berlebihan pada penampilan, bisa
menyingkirkan kandidat yang kompeten tapi kurang memenuhi standar fisik. Bisa
pula menimbulkan diskriminasi kerja (appearance-based
bias) yang tidak etis dan tidak adil (melanggar prinsip equal employment opportunity).
b. Mental
yang Baik: Faktor yang Jauh Lebih Penting
Dalam psikologi kerja,
mental yang baik mencakup:
✨ 1. Kecerdasan Emosional (Emotional
Intelligence)
• Mampu
memahami dan mengelola emosi sendiri dan orang lain (termasuk pelanggan yang
marah, rekan kerja yang stres).
• Komponen
penting: empati, self-regulation, motivasi, dan keterampilan sosial.
✨ 2. Resiliensi
• Mampu
bangkit dari tekanan kerja, seperti jam kerja panjang, pelanggan kasar, atau
kesalahan kecil.
• Karyawan
yang resilen cenderung lebih stabil secara psikologis, dan tidak mudah burnout.
✨ 3. Motivasi & Sikap Kerja Positif
• Loyalitas,
keinginan belajar, inisiatif, dan kemampuan teamwork lebih penting daripada
sekadar penampilan.
Psikologi modern
sepakat: Dalam jangka panjang, soft skills dan kekuatan mental jauh lebih
menentukan kualitas pelayanan dibanding faktor fisik semata.
c. Pandangan
Ideal: Keseimbangan Visual & Mental
Ada 4 aspek dalam
mencari karyawan, yaitu:
Penampilan,
Kepribadian, Kesehatan mental, dan Etika kerja.
✨ Penampilan penting untuk branding,
kesan pertama, dan promosi visual.
Cara menilainya dengan
observasi visual, grooming, dan SOP.
✨ Kepribadian penting untuk
pelayanan pelanggan, teamwork. Cara menilainya dengan interview berbasis
perilaku (BEI).
✨ Kesehatan mental penting untuk
daya tahan, stres, konsistensi. Cara menilainya dengan tes psikologi, HRD
screening.
✨ Etika kerja penting untuk
loyalitas, jujur, bertanggung jawab. Cara menilainya dengan referensi kerja,
masa dan percobaan.
d. Rekomendasi
Praktis untuk Perekrutan Karyawan Café
✨ 1.
Gunakan Proses Seleksi Multi-Tahap:
• Wawancara
awal → observasi penampilan & komunikasi.
• Tes
simulasi → pelayanan pelanggan (roleplay).
• Interview
mendalam → nilai sikap, emosi, tanggung jawab.
✨ 2.
Gunakan Pertanyaan Berbasis Perilaku (Behavioral Interview):
Contoh:
“Pernahkah kamu
menghadapi pelanggan yang marah? Apa yang kamu lakukan?”
Tujuannya untuk
mengukur reaksi emosional dan strategi coping.
✨ 3.
Fokus pada Grooming & Attitude daripada Wajah
• “Good
looking” bisa berarti daya tarik, rapi, bersih, senyum tulus, dan postur
percaya diri—bukan semata wajah tampan/cantik.
• Arahkan
ke “good presence”. "Good presence" adalah "kehadiran
yang menawan". Secara lebih luas, ini merujuk pada kemampuan
seseorang untuk menciptakan kesan positif dan menarik perhatian ketika berada
di suatu tempat atau situasi.
Pada akhirnya,
keberhasilan usaha food and beverage tidak hanya bergantung pada satu faktor,
melainkan pada keselarasan lima pilar utama: kualitas produk yang menjadi fondasi,
arah dan visi yang memberi tujuan, keberanian serta diferensiasi untuk tampil
unik, hubungan yang membangun loyalitas pelanggan, serta detail dan pelayanan
yang memastikan pengalaman tak terlupakan.*

.jpeg)
.jpeg)


Komentar
Posting Komentar