Tren Perkotaan Dalam Usaha Food and Beverage

 Oleh: M. Muhar Omtatok

    Membaca Tren dan Fleksibel

Dalam dunia usaha ada frasa bahwa “Bisnis yang menang bukan yang besar atau tua, tapi yang paling cepat membaca tren dan menyesuaikan strategi”.

Membaca tren (trend) berarti peka terhadap perubahan pasar. Tren bisa berupa perubahan perilaku konsumen, perkembangan teknologi digital, model bisnis baru misalnya dari offline ke online, serta membaca dampak dan strategi saat krisis global semisal pandemi, ekonomi, atau geopolitik.

Contoh nyata bisa dilihat pada bisnis kuliner yang membaca tren “makanan sehat” atau “plant-based” lebih cepat mengembangkan menu baru. Atau toko pakaian yang melihat tren “thrifting” mulai menjual produk second-hand secara online.

Sikap fleksibel juga penting, sebagai bentuk cepat beradaptasi, artinya usaha tidak kaku pada cara lama. Berani mengubah produk, layanan, sistem kerja, bahkan strategi pemasaran.

Coba saja perhatikan selama pandemi, banyak cafe yang beralih ke delivery service dan menjual produk dalam bentuk frozen food. UMKM yang semula hanya jualan di pasar mulai buka toko di Shopee atau TikTok Shop karena melihat pergeseran perilaku beli.

Dia yang bertahan adalah Sustainable Business. Usaha yang cepat membaca tren & fleksibel akan tetap relevan bagi pelanggan, tidak ketinggalan pasar, serta lebih siap menghadapi krisis dan kompetisi.

Sustainable business merupakan bisnis berkelanjutan, inilah model bisnis yang berfokus pada penciptaan nilai jangka panjang dengan mempertimbangkan dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan dari operasi bisnis. Bisnis berkelanjutan berupaya meminimalkan dampak negatif dan memaksimalkan dampak positif pada lingkungan dan masyarakat, serta memastikan keberlangsungan bisnis itu sendiri. 

Sebagai perenungan saja, ingatkah perusahaan besar dan berjaya, lalu gagal membaca tren,  seperti Kodak tertinggal karena tak mau masuk ke fotografi digital. Nokia kehilangan pasar karena lambat berinovasi ke smartphone berbasis Android.

Sehingga, dalam dunia usaha, siapa yang mampu membaca arah tren pasar dan berani berubah, dialah yang akan survive, bahkan mungkin tumbuh lebih cepat dari yang hanya diam dan bertahan dengan cara lama.

 

     Fakta Pasar Food and Beverage (F&B) 

Menurut sebuah riset 2025, sektor F&B tetap tumbuh rata-rata 5–8% per tahun di Indonesia, meski tidak secepat pra-pandemi. Di kota besar, urban lifestyle masih mendukung budaya jajan, ngopi, nongkrong, delivery makanan, dan snacking. Tren konsumsi makanan & minuman (F&B)   tetap jadi kebutuhan utama.

 

   Pembanding sebelum tahun 2020–2022 dengan setelah tahun 2023–2025

Sebelum tahun 2020–2022, tren kuliner di Indonesia sangat dipengaruhi oleh fenomena “dine-in cantik”. Istilah ini merujuk pada pengalaman makan di restoran atau kafe dengan suasana yang estetik, elegan, dan menarik secara visual, sehingga sering dijadikan konten untuk media sosial. Banyak orang datang bukan hanya untuk mencicipi makanan, tetapi juga untuk menikmati ambience yang indah, berfoto, lalu membagikannya secara daring. Restoran dan kafe pun berlomba-lomba menghadirkan desain interior unik serta konsep yang instagramable demi menarik perhatian generasi muda yang konsumtif dan impulsif.

Namun, setelah memasuki periode 2023–2025, fokus konsumen maupun pelaku usaha mulai bergeser. Tidak lagi sekadar mengutamakan tampilan dan suasana, kini harga yang terjangkau dan kenyamanan menjadi faktor utama. Tren membuka usaha F&B pun mengalami transformasi: jika sebelumnya banyak orang terjun hanya karena gaya-gayaan atau ikut-ikutan, kini semakin banyak yang benar-benar serius menekuni bisnis kuliner. Potensi keuntungan dimatangkan dengan riset pasar, minat mendalam pada dunia kuliner, serta keinginan kuat untuk membangun usaha berkelanjutan. Meski begitu, hanya mereka yang mampu menjaga arus kas tetap sehat yang bisa bertahan di tengah persaingan.

Perubahan perilaku konsumen juga terlihat jelas. Jika dahulu lebih boros dan impulsif, pasca 2023 konsumen cenderung lebih rasional, selektif, dan mempertimbangkan nilai di balik setiap pembelian. Dalam konteks ini, modal besar bukan lagi jaminan keberhasilan; yang lebih menentukan adalah efisiensi, strategi pengelolaan cash flow, serta kelincahan dalam menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar. Bisnis F&B yang dapat menyeimbangkan kualitas produk, harga bersaing, dan manajemen keuangan yang solid akan lebih mudah memenangkan hati konsumen sekaligus bertahan menghadapi dinamika industri.

Efisiensi dan kelincahan adalah dua konsep penting dalam menjalankan usaha yang saling berkaitan. Efisiensi berfokus pada penggunaan sumber daya seminimal mungkin untuk mencapai hasil maksimal, sedangkan kelincahan (agility) berkaitan dengan kemampuan usaha untuk beradaptasi dengan perubahan pasar dan lingkungan bisnis yang dinamis. 

    Box Tips: Kunci Bertahan di Pasar Urban

M. Muhar (20023) memperkenalkan Teori  C2H2   yaitu Cozy, Comfort, Homey & Hospitality, dimana konsumen mencari resto, café atau coffee shop yang C2H2:

   Cozy itu menggambarkan suasana resto, café atau coffee shop yang hangat, nyaman, dan menyenangkan, seringkali dikaitkan dengan tempat atau ruangan yang terasa intim dan menenangkan.

   Comfort merujuk pada perasaan tenang, aman, dan senang, atau keadaan yang memberikan ketentraman dan kelegaan jika berada dan menikmati produk di resto, café atau coffee shop tertentu.

   Homey menekankan pada suasana yang akrab, memberikan rasa aman, familiar, dan nyaman, bukan cuma tentang lokasi dan tempat tapi orang yang ada di resto, café atau coffee shop tersebut.

   Hospitality adalah sikap ramah tamah dan pelayanan yang baik kepada tamu atau pelanggan, baik dalam konteks pribadi maupun dalam industri bisnis resto, café atau coffee shop.

Tempat yang bersih, wangi, dan nyaman, Jika memutar musik sebaiknya tidak terlalu keras agar tidak terkesan "low class" dan memberi nyaman konsumen yang ingin ngobrol, colokan cukup, dan ruang AC jadi nilai tambah. Banyak orang nongkrong bersembang-sembang sambil kerja, jadi Wi-Fi yang stabil sangat dihargai.

Pelayanan manusiawi, senyum tulus, dan sapaan personal bikin pelanggan balik lagi. Konsumen suka jika barista atau pelayan mengingat pesanan favorit mereka. Pengelola semestinya mengajarkan staf untuk mengenali pelanggan tetap dan beri perhatian kecil, dan seluruh staf wajib menjadikan resto, café atau coffee shop sebagai “Smile and Friendliness Zone”.

·       Value for Money (Nilai untuk Uang)

"Value for money" (VfM) bagi konsumen adalah konsep dimana konsumen merasa puas karena mendapatkan manfaat atau kualitas yang sepadan dengan harga yang mereka bayar untuk suatu produk atau layanan. Ini berarti konsumen merasa uang yang mereka keluarkan memberikan nilai yang baik, baik itu dalam bentuk kepuasan, fungsi, atau manfaat.    

Konsumen kini tidak hanya mencari murah, tapi harga yang sepadan dengan rasa, porsi, pengalaman dan penghargaan.

Misalmya harga secangkir kopi Rp 25.000 akan dianggap wajar dan tidak mahal, asal konsumen mendapatkan rasa, porsi, pengalaman dan penghargaan.

Memang ada juga segmen konsumen yang mencari menu hemat atau paket bundling, tentu hal ini diamati dari segmentasi konsumen kelas tertentu.

Bundling  dalam konteks bisnis dan pemasaran, artinya adalah strategi menggabungkan beberapa produk atau layanan menjadi satu paket dengan harga khusus. Tujuannya adalah untuk meningkatkan penjualan, mendorong pelanggan membeli lebih banyak, dan memberikan nilai tambah bagi konsumen. Namun ini bukan satu-satunya stategi pemasaran dan butuh disesuaikan dengan kondisi sebuah resto, café atau coffee shop.

·       Cita Rasa yang Konsisten

Konsistensi rasa teramat sangat penting dalam usaha restoran, kafe, atau kedai kopi. Hal ini akan meningkatkan loyalitas pelanggan, membangun brand awareness, dan pada akhirnya, meningkatkan penjualan. 

Konsumen sangat menghargai rasa yang selalu sama setiap kali datang. Banyak pelanggan kecewa ketika, misalnya  “kopinya beda rasanya tiap minggu”.

·       Identitas atau “Rasa Unik”

Istilah “identitas atau rasa unik” dalam tren Food and Beverage (F&B) merujuk pada keunikan karakteristik suatu produk atau merek yang membedakannya dari pesaing lain. Dalam konteks menjaring pelanggan, konsumen sekarang tertarik pada tempat yang punya cerita atau karakter.

Dalam ilmu pemasaran dan psikologi konsumen, identitas atau rasa unik berhubungan dengan konsep:

a.  Diferensiasi Produk (Product Differentiation)

Teori ini menjelaskan bahwa produk yang memiliki ciri khas unik (rasa, tampilan, narasi, asal bahan, cara penyajian) akan lebih mudah dikenali dan diingat oleh konsumen, sehingga meningkatkan kemungkinan pembelian ulang.

Philip Kotler menyatakan bahwa salah satu strategi memenangkan pasar adalah melalui unique selling proposition (USP). USP adalah alasan utama mengapa pelanggan memilih suatu produk atau layanan tertentu, dan merupakan kunci untuk menarik perhatian dan membangun loyalitas pelanggan. 

b. Persepsi Nilai Konsumen (Consumer Perceived Value)

Konsumen tidak hanya membeli rasa, tapi juga pengalaman dan cerita di balik produk. Identitas yang kuat memberikan emotional connection dan perceived added value.

Emotional connection (keterikatan emosional) adalah hubungan emosional yang terjalin antara seseorang dan suatu produk, layanan, atau merek. Ini adalah ikatan yang terbentuk ketika konsumen merasa terhubung secara emosional dengan suatu merek atau produk, yang seringkali didasarkan pada nilai-nilai, pengalaman, atau cerita yang dibagikan. 

Perceived added value (nilai tambah yang dirasakan) adalah persepsi konsumen tentang manfaat yang mereka peroleh dari suatu produk atau layanan, melampaui fungsi dasarnya. Ini adalah evaluasi subjektif dari seberapa berharganya suatu produk atau layanan bagi konsumen, dan seringkali dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kualitas, harga, dan pengalaman. 

   Hubungan antara keduanya:

Keterikatan emosional dapat secara signifikan memengaruhi nilai tambah yang dirasakan. Ketika konsumen merasa terhubung secara emosional dengan suatu produk makanan atau minuman, mereka cenderung memberikan nilai yang lebih tinggi pada makanan, minuman atau layanan yang ditawarkan, bahkan jika harganya lebih mahal atau fitur-fiturnya tidak jauh berbeda dengan produk pesaing. 

   Dampak Identitas/Rasa Unik dalam F&B

a. Identitas Merek (Brand Identity)

Rasa unik membantu menciptakan identitas yang kuat dan unik untuk resto, café atau coffee shop. Rasanya menjadi ciri khas yang mudah dikenali dan diingat oleh pelanggan. 

b. Rasa Unik (Signature Taste)

Rasa khas yang unik dapat menjadi pembeda utama antara bisnis Anda dengan kompetitor di pasar yang ramai. 

c. Daya Tarik Pelanggan

Menu dengan rasa khas yang menarik dapat menjadi daya tarik utama bagi pelanggan, membuat mereka penasaran dan ingin mencoba. 

d. Loyalitas Pelanggan

Ketika pelanggan menyukai rasa unik, mereka cenderung menjadi pelanggan setia, kembali lagi untuk menikmati rasa yang sama. 

e. Peluang Promosi

Rasa unik dapat menjadi bahan pembicaraan yang efektif, baik di media sosial maupun dari mulut ke mulut, yang membantu promosi bisnis. 

f. Margin Keuntungan

Menu dengan rasa khas yang unik biasanya dihargai lebih tinggi, memberikan margin keuntungan yang lebih besar. 

Identitas atau rasa unik bukan hanya soal produk, tapi soal pengalaman menyeluruh yang dirasakan pelanggan. Dalam dunia F&B yang sangat kompetitif, keunikan ini menjadi alat diferensiasi yang kuat untuk menjaring pelanggan baru dan mempertahankan pelanggan lama.

·       Efisiensi Operasional

Efisiensi operasional dalam usaha F&B merujuk pada kemampuan bisnis untuk menghasilkan produk atau layanan berkualitas tinggi dengan biaya yang minimal, waktu yang efisien, dan penggunaan sumber daya yang optimal. Ini melibatkan berbagai aspek seperti manajemen inventaris, proses pelayanan, pengelolaan keuangan, dan penggunaan teknologi untuk meningkatkan produktivitas dan mengurangi pemborosan. 

   Pentingnya Efisiensi Operasional dalam Usaha F&B:

a.    Peningkatan Profitabilitas

Efisiensi operasional membantu mengurangi biaya produksi, pengelolaan, dan operasional lainnya, sehingga meningkatkan margin keuntungan. 

b.    Peningkatan Kepuasan Pelanggan

Pelayanan yang cepat dan berkualitas, didukung oleh operasional yang efisien, dapat meningkatkan kepuasan pelanggan. 

c.     Pengelolaan Sumber Daya yang Lebih Baik

Efisiensi memungkinkan penggunaan bahan baku, tenaga kerja, dan waktu secara optimal, mengurangi pemborosan dan meningkatkan produktivitas. 

d.    Keunggulan Kompetitif

Bisnis yang efisien dapat menawarkan harga yang lebih kompetitif dan layanan yang lebih baik, memberikan keunggulan di pasar yang kompetitif. 

e.     Adaptasi Terhadap Perubahan Pasar

Bisnis yang efisien dapat lebih mudah beradaptasi dengan tren dan perubahan pasar, serta menghadapi tantangan dengan lebih baik. 

 

   Contoh Penerapan Efisiensi Operasional dalam Usaha F&B:

a.    Sistem POS (Point of Sale) Terintegrasi

Sistem POS (Point of Sale) terintegrasi adalah sistem yang menggabungkan fungsi titik penjualan dengan sistem bisnis lain seperti akuntansi, inventaris, CRM, dan e-commerce. Integrasi ini memungkinkan otomatisasi alur data, pengurangan entri manual, peningkatan akurasi, dan visibilitas bisnis yang lebih baik. Dengan sistem terintegrasi, usaha dapat mengelola penjualan, inventaris, dan data pelanggan secara lebih efisien. 

b.    Pengelolaan Inventaris

Menerapkan sistem pengelolaan inventaris yang efisien untuk mengurangi pemborosan dan memastikan ketersediaan bahan baku. 

Hal ini mencakup seluruh siklus hidup barang, mulai dari pengadaan, penyimpanan, penggunaan, hingga pembuangan atau penjualan. Pengelolaan inventaris yang efektif memastikan ketersediaan barang yang tepat, pada waktu yang tepat, dan dalam jumlah yang tepat, sehingga mendukung kelancaran operasional dan efisiensi bisnis. 

Tujuan utama pengelolaan inventaris untuk memastikan ketersediaan barang, mengendalikan biaya, meningkatkan efisiensi, mendukung pengambilan keputusan serta mencegah kerugian.

c.     Coaching Karyawan

Coaching karyawan adalah proses pengembangan diri untuk membantu karyawan mencapai potensi terbaik mereka, meningkatkan kinerja, dan mencapai tujuan profesional. Coaching berfokus pada pengembangan keterampilan, pemahaman diri, dan peningkatan kinerja karyawan, bukan hanya memberikan solusi atau instruksi. Titik fokus adalah memastikan mereka dapat bekerja secara efisien. 

d.    Pemanfaatan Teknologi

Menggunakan teknologi seperti aplikasi pemesanan online, sistem manajemen restoran, atau aplikasi pengiriman untuk meningkatkan efisiensi. 

e.     Optimasi Rantai Pasokan

Membangun rantai pasokan yang efisien untuk memastikan ketersediaan bahan baku dengan biaya yang optimal. 

f.      Standar Operasional Prosedur (SOP)

Menerapkan SOP yang jelas dan terperinci untuk memastikan semua proses berjalan lancar dan konsisten. 

g.    Analisis Data

Menganalisis data penjualan dan operasional untuk mengidentifikasi area yang perlu ditingkatkan dan membuat keputusan yang lebih baik. 

·       Digital Marketing yang Kuat

Dalam industri restoran, café, dan coffee shop, digital marketing yang kuat sangat krusial untuk membangun brand awareness, menarik pelanggan baru, dan mempertahankan loyalitas pelanggan lama. Di era terbaru, tren digital marketing semakin mengarah pada kreativitas, pengalaman visual, dan keterlibatan emosional.

Strategi digital marketing terbaik untuk resto/café bukan hanya yang canggih, tapi yang relevan, konsisten, dan menyentuh emosi serta kebiasaan harian pelanggan.

Berikut adalah strategi dan elemen digital marketing yang paling kuat dan relevan saat ini:

a.     Konten Visual (Foto & Video Short Form)

Tren Utama: Reels, TikTok, dan YouTube Shorts

Konten visual lebih cepat viral, saat ini ada kecenderungan ‘Orang makan dan minum dengan mata dulu sebelum lidah’. Serta reels dan tiktok punya algoritma yang bisa menampilkan konten ke ribuan non-follower.

Disini banyak cara kreatif dan produktif, misalnya saja    dengan tampilkan proses F&B, Autonomous Sensory Meridian Response (ASMR), testimoni pelanggan, behind-the-scenes, hingga penjelasan pakar yang kesannya bukan menggurui tapi memunculkan kesan mendalam.

Gunakan trend audio dan hashtag lokal, juga pertimbangkan editing yang estetik serta  natural.

b.    Strategi Influencer, Food Vlogger Lokal & Keterlibatan Emosional / Komunitas

Saat ini memaknai influencer dan vlogger tidak harus yang  punya kredibilitas sosial, dengan jumlah followers banyak saja, karena followers juga bisa dibeli. Pihak resto, café, coffee shop jika mampu dan mau, juga bisa membuat konten, asal dibuat dengan pertimbangan matang dan kreatif serta menarik. Keterlibatan emosional dari komunitas atau  konsumen loyal dan layak, bisa didekati untuk kegiatan pemasaran ini.

c.      Google My Business (GMB) + Ulasan Google Maps

Mayoritas orang mencari resto, café, coffee shop lewat Google Maps, bukan lagi browser biasa. Ulasan dan rating sangat menentukan keputusan berkunjung.

Karenanya, klaim GMB Anda. upload foto dan jam operasional lengkap, serta minta pelanggan memberikan review setelah makan.

d.    Optimasi Instagram & TikTok Bisnis

Gunakan Bio Instagram dengan link ke menu digital (contoh: Linktree, Sociabuzz, WhatsApp). Sorotan (highlight) berisi: menu, promo, lokasi, testimoni, behind the scenes.

TikTok: konten storytelling, baik asal-usul kopi, kisah barista, cerita pelanggan.

e.      Digital Loyalty & Promo Campaigns

Alat & Teknik:

          •        Gunakan aplikasi kasir seperti Moka, Majoo, atau Qasir yang terhubung ke loyalty dan WhatsApp marketing.

          •        Buat promo flash sale, kupon digital, atau QR-code untuk reward repeat customer.

f.      WhatsApp & Telegram Marketing (Hyperlocal Push)

Mengapa kuat?

          •        Open rate WhatsApp > 80%, jauh di atas email.

          •        Cocok untuk promo dadakan: “diskon 20% hari ini aja”, “Beli 1 gratis 1 jam 3–5 sore”.

Tips:

          •        Bangun database nomor pelanggan.

          •        Kirim info berkala yang tidak spammy.

g.     Iklan Berbayar (Meta Ads + Google Ads)

          •        Instagram & Facebook Ads:

          •        Targetkan orang dalam radius 3–5 km.

          •        Gunakan konten video/foto menu terbaik.

          •        Google Ads:

          •        Gunakan keyword seperti “cafe estetik di [nama kota]” atau “tempat ngopi nyaman dekat sini”.

h.     Menu Digital & Online Ordering (GoFood/GrabFood/ShopeeFood)

Pastikan foto makanan menarik & deskripsi singkat menggugah selera, lalu ikuti campaign dan promo GoFood/GrabFood reguler. Kemudian cantumkan QR code menu digital di tempat dan media sosial.

i.        User Generated Content (UGC)

Cara kerjanya dengan mengajak pelanggan membagikan pengalaman mereka di IG Story/Feed. Beri reward: kopi gratis jika tag akunmu + pakai hashtag khusus. Repost konten pelanggan untuk meningkatkan kepercayaan sosial.

j.        Website atau Landing Page Sederhana

Fungsinya:

          •        Sebagai pusat informasi resmi (menu, kontak, lokasi).

          •        Terhubung ke reservasi atau pemesanan online.

          •        SEO-nya bisa masuk Google saat orang mencari: “kopi terenak di [kota]”.

Di samping itu ada pula tren lain, seperti:

          •        AI Chatbot via WhatsApp/Instagram untuk pemesanan cepat.

          •        Augmented Reality Menu (bisa dilihat di HP sebelum dipesan).

          •        TikTok Live Cooking Show atau Q&A barista langsung di jam ramai.

 


    Persyaratan Karyawan Resto, Café, Coffee Shop

Dalam industri hospitality, termasuk Resto, Café, Coffee Shop: penampilan memang bisa jadi nilai tambah, tetapi mental yang sehat, sikap positif, dan kecerdasan emosional adalah kunci utama keberhasilan dan keberlangsungan layanan.

Dari perspektif psikologi industri & organisasi, berikut pandangan ilmiahnya:

a.    Good Looking: Estetika vs Efektivitas Pelayanan

Teori Psikologi: Halo Effect

Menurut psikologi sosial, Halo Effect adalah bias kognitif di mana orang cenderung menganggap seseorang yang menarik secara fisik juga lebih kompeten, ramah, atau cerdas.

Pelanggan cenderung merasa nyaman atau lebih puas saat dilayani oleh karyawan yang menarik. Ini bisa memberikan kesan pertama positif, terutama untuk first-time customers atau tempat dengan konsep estetik (Instagrammable).

Hanya saja, rekrutmen dan seleksi karyawan  yang fokus berlebihan pada penampilan, bisa menyingkirkan kandidat yang kompeten tapi kurang memenuhi standar fisik. Bisa pula menimbulkan diskriminasi kerja (appearance-based bias) yang tidak etis dan tidak adil (melanggar prinsip equal employment opportunity).

b.    Mental yang Baik: Faktor yang Jauh Lebih Penting

Dalam psikologi kerja, mental yang baik mencakup:

   1. Kecerdasan Emosional (Emotional Intelligence)

          •        Mampu memahami dan mengelola emosi sendiri dan orang lain (termasuk pelanggan yang marah, rekan kerja yang stres).

          •        Komponen penting: empati, self-regulation, motivasi, dan keterampilan sosial.

   2. Resiliensi

          •        Mampu bangkit dari tekanan kerja, seperti jam kerja panjang, pelanggan kasar, atau kesalahan kecil.

          •        Karyawan yang resilen cenderung lebih stabil secara psikologis, dan tidak mudah burnout.

   3. Motivasi & Sikap Kerja Positif

          •        Loyalitas, keinginan belajar, inisiatif, dan kemampuan teamwork lebih penting daripada sekadar penampilan.

Psikologi modern sepakat: Dalam jangka panjang, soft skills dan kekuatan mental jauh lebih menentukan kualitas pelayanan dibanding faktor fisik semata.

c.     Pandangan Ideal: Keseimbangan Visual & Mental

Ada 4 aspek dalam mencari karyawan, yaitu:

Penampilan, Kepribadian, Kesehatan mental, dan Etika kerja.

   Penampilan penting untuk branding, kesan pertama, dan promosi visual.

Cara menilainya dengan observasi visual, grooming, dan SOP.

   Kepribadian penting untuk pelayanan pelanggan, teamwork. Cara menilainya dengan interview berbasis perilaku (BEI).

   Kesehatan mental penting untuk daya tahan, stres, konsistensi. Cara menilainya dengan tes psikologi, HRD screening.

   Etika kerja penting untuk loyalitas, jujur, bertanggung jawab. Cara menilainya dengan referensi kerja, masa dan percobaan.

d.    Rekomendasi Praktis untuk Perekrutan Karyawan Café

   1. Gunakan Proses Seleksi Multi-Tahap:

          •        Wawancara awal → observasi penampilan & komunikasi.

          •        Tes simulasi → pelayanan pelanggan (roleplay).

          •        Interview mendalam → nilai sikap, emosi, tanggung jawab.

   2. Gunakan Pertanyaan Berbasis Perilaku (Behavioral Interview):

Contoh:

“Pernahkah kamu menghadapi pelanggan yang marah? Apa yang kamu lakukan?”

Tujuannya untuk mengukur reaksi emosional dan strategi coping.

   3. Fokus pada Grooming & Attitude daripada Wajah

          •        “Good looking” bisa berarti daya tarik, rapi, bersih, senyum tulus, dan postur percaya diri—bukan semata wajah tampan/cantik.

          •        Arahkan ke “good presence”. "Good presence" adalah "kehadiran yang menawan". Secara lebih luas, ini merujuk pada kemampuan seseorang untuk menciptakan kesan positif dan menarik perhatian ketika berada di suatu tempat atau situasi.

Pada akhirnya, keberhasilan usaha food and beverage tidak hanya bergantung pada satu faktor, melainkan pada keselarasan lima pilar utama: kualitas produk yang menjadi fondasi, arah dan visi yang memberi tujuan, keberanian serta diferensiasi untuk tampil unik, hubungan yang membangun loyalitas pelanggan, serta detail dan pelayanan yang memastikan pengalaman tak terlupakan.*



Komentar