Oleh: M. Muhar Omtatok
Manusia itu makhluk
kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai dorongan dan sifat dasar. Dorongan-dorongan
ini meliputi rasa ingin tahu, kebutuhan bertahan hidup, sosialitas (kebutuhan
berkelompok dan interaksi), emosi, kreativitas, rasa keadilan, pencarian makna
hidup, dan kebutuhan untuk mengontrol lingkungan atau situasi. Semua
dorongan ini saling berinteraksi dan membentuk kompleksitas manusia, sehingga
mendorong perilaku, membentuk hubungan sosial, dan memengaruhi perjalanan
perkembangan pribadi seseorang.
Sifat dasar manusia
adalah pola perilaku dan dorongan psikologis yang bersifat universal. Memahami
sifat dasar menjadi penting karena membantu dalam pengembangan diri,
membangun hubungan interpersonal yang lebih baik, memilih karier yang sesuai,
mengelola stres, hingga meningkatkan empati dan toleransi terhadap orang
lain. Pemahaman ini juga penting dalam bidang pendidikan untuk
menyesuaikan metode pengajaran, dalam konteks keagamaan untuk memperkuat iman,
dan secara umum untuk memahami perilaku manusia secara lebih mendalam.
Teori Hierarki
Kebutuhan Maslow, yang diperkenalkan oleh Abraham Maslow dalam artikelnya
"A Theory of Human Motivation"
(1943), menjelaskan bahwa kebutuhan manusia tersusun secara hierarkis dari
tingkat dasar (fisiologis) hingga kebutuhan yang lebih kompleks (aktualisasi
diri), yang harus dipenuhi secara berurutan untuk mencapai potensi penuh
seseorang. Kebutuhan dasar harus terpenuhi terlebih dahulu sebelum
individu termotivasi untuk memenuhi kebutuhan tingkat yang lebih tinggi,
seperti keamanan, sosial (cinta dan rasa memiliki), harga diri, dan akhirnya
aktualisasi diri. Namun penelitian modern menambahkan dimensi seperti
curiosity, kreativitas, dan moralitas yang lebih spesifik.
Sifat
Dasar Manusia dan Analisis Sederhana
1
Rasa Ingin Tahu (Curiosity)
Rasa ingin tahu (curiosity) adalah dorongan alami
untuk menjelajahi dan memahami sesuatu yang baru, baik itu ide, pengalaman,
maupun informasi. Sifat ini memotivasi seseorang untuk mencari penjelasan
dan pengetahuan baru, membuka jalan bagi eksplorasi, pembelajaran
berkelanjutan, dan inovasi. Rasa ingin tahu juga terkait dengan keterbukaan
terhadap pengalaman baru dan kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan.
Komponen rasa ingin
tahu (curiosity) meliputi motivasi
intrinsik untuk mencari informasi dan pengetahuan baru, keinginan untuk
menjelajahi hal-hal baru, keterbukaan terhadap pengalaman baru, serta adanya
perasaan penasaran yang timbul dari information
gap (celah pengetahuan) atau ketidakpastian tentang suatu hal. Rasa
ingin tahu adalah dorongan alami untuk memahami dunia, yang memicu perilaku
eksplorasi dan pembelajaran.
·
Motivasi Intrinsik
Rasa ingin tahu
didorong oleh minat dan kesenangan dalam mencari jawaban, bukan karena tujuan
eksternal atau hadiah.
·
Pencarian Informasi dan Pengetahuan Baru
Komponen inti dari rasa
ingin tahu adalah hasrat untuk memperoleh informasi dan pengetahuan baru yang
belum diketahui.
·
Keterbukaan Terhadap Pengalaman Baru
Individu yang ingin
tahu cenderung tertarik pada hal-hal baru, pengalaman baru, dan ide-ide baru.
·
Information Gap (Celah Pengetahuan)
Rasa ingin tahu muncul
ketika seseorang menyadari adanya celah antara apa yang mereka ketahui dan apa
yang ingin mereka ketahui. Ketidaksempurnaan atau ketidakjelasan dalam
pemahaman memicu rasa ingin tahu untuk mengisi celah tersebut.
·
Eksplorasi Spontan
Rasa ingin tahu
mendorong perilaku eksplorasi yang bersifat spontan dan aktif untuk menyelidiki
suatu fenomena atau masalah.
·
Respons Terhadap Kebaruan dan
Ketidakpastian
Perasaan ingin tahu
timbul ketika seseorang dihadapkan pada hal-hal yang baru, tidak biasa, atau
tidak jelas, yang menimbulkan ketidakpuasan atau ketidakpastian.
·
Dorongan Untuk Memahami Dunia
Secara fundamental,
rasa ingin tahu adalah dorongan alami untuk memahami lingkungan dan dunia di
sekitar, termasuk fenomena alam.
Bagaimana membangkitkan rasa ingin tahu ?
Untuk membangkitkan
rasa ingin tahu, kita bisa mengajukan pertanyaan terbuka, membaca beragam
informasi, mencari pengalaman baru, mengamati sekitar, berpikir kritis, dan
menumbuhkan sifat optimistis terhadap ketidakpastian. Dengan melakukan
hal-hal ini, kita secara aktif mendorong diri sendiri untuk belajar lebih
banyak dan memperluas wawasan.
·
Ajukan Pertanyaan
Gunakan
pertanyaan-pertanyaan seperti "bagaimana jika" (what if), "mengapa tidak" (why not), dan "bagaimana" (how) untuk mendorong pemikiran eksploratif.
·
Ciptakan Lingkungan yang Mendukung
Beri ruang bagi
individu untuk mengambil risiko dan mengeksplorasi ide-ide baru dalam
lingkungan yang mendukung.
·
Terhubung dengan Tujuan
Memahami manfaat
pribadi atau sosial dari informasi dapat merangsang rasa ingin tahu, membuat
proses belajar lebih bermakna.
2
Kebutuhan Bertahan Hidup (Survival Needs)
Kebutuhan bertahan
hidup (survival needs) dan naluri
bertahan hidup (survival instinct)
adalah dua konsep berbeda namun saling terkait. Kebutuhan bertahan hidup
adalah syarat dasar untuk kelangsungan hidup manusia seperti makanan, air,
tempat berlindung, dan keamanan. Naluri bertahan hidup adalah dorongan bawaan
untuk bertindak demi meningkatkan peluang hidup dan menghindari bahaya, seperti
rasa takut yang mendorong seseorang mencari tempat aman. Kemampuan
bertahan hidup juga mencakup keterampilan fisik dan mental yang bisa dipelajari
dan dilatih untuk menghadapi tantangan di dunia modern.
Kebutuhan bertahan hidup
(Survival Needs) merupakan kebutuhan fisiologis dan keamanan yang harus
dipenuhi agar manusia dapat hidup dan berfungsi.
·
Kebutuhan Fisiologis: Makanan, air
bersih, tempat berlindung dari cuaca, udara, dan tidur.
·
Kebutuhan Keamanan: Merasa aman
dari bahaya dan memiliki lingkungan yang stabil.
Sedangkan naluri
bertahan hidup (Survival Instinct)
sebagai dorongan alami yang membantu organisme untuk tetap hidup.
·
Dorongan Bawaan
Kebutuhan untuk mencari
makanan saat lapar atau lari dari bahaya saat takut.
·
Perilaku Adaptif
Kemampuan untuk
beradaptasi dengan situasi baru dan mengubah perilaku untuk bertahan hidup
dalam kondisi yang sulit.
Adapun keterkaitan dan
pengembangan kemampuan bertahan hidup, yaitu:
·
Kesehatan Fisik dan Mental
Menjaga kesehatan fisik
(olahraga) dan mental (self-care)
sangat penting untuk meningkatkan daya tahan.
·
Pengetahuan dan Keterampilan
Belajar keterampilan
dasar seperti membuat api, mencari perlindungan, dan navigasi, serta pentingnya
pengetahuan untuk menjaga diri dalam situasi darurat.
·
Kesiapsiagaan Mental
Melatih diri untuk
tetap tenang dan berpikir jernih dalam situasi kritis sangat menentukan peluang
untuk bertahan hidup.
·
Adaptasi di Era Modern
Kemampuan untuk
belajar, beradaptasi dengan perubahan, dan memiliki keterampilan yang relevan
sangat dibutuhkan untuk bertahan di tengah ketidakpastian ekonomi dan sosial
saat ini.
Survival
sering
menjadi dasar perilaku manusia yang rasional maupun emosional, misalnya
ketakutan atau kewaspadaan.
3
Sosialitas (Sociality)
Dorongan sosialitas
(sociality) adalah naluri alami manusia untuk hidup bersama,
berinteraksi, dan membentuk hubungan sosial, karena manusia secara kodrati
adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri. Dorongan ini mendasar
karena manusia memiliki kebutuhan untuk bersatu dengan manusia lain dan juga
alam sekitar, yang memungkinkan mereka untuk memenuhi kebutuhan, mempertahankan
hidup, dan mengembangkan diri.
Sosialitas mendukung survival karena hubungan sosial yang
positif meningkatkan rasa aman dan kesejahteraan emosional individu, yang pada
gilirannya membantu mereka menghadapi stres dan tantangan hidup. Dukungan
sosial dalam berbagai bentuk, seperti dukungan emosional, informasi, dan
bantuan nyata, terbukti dapat mencegah masalah kesehatan mental dan
meningkatkan resiliensi.
Mempertahankan hubungan
sosial yang positif dan membangun jaringan dukungan yang kuat adalah investasi
berharga untuk kesejahteraan jangka panjang, termasuk kemampuan untuk bertahan
dan berkembang dalam kehidupan.
4
Emosi dan Afeksi (Emotion & Affection)
Dorongan emosi dan
afeksi merujuk pada perasaan, suasana hati, dan pengalaman subjektif yang
timbul sebagai respons terhadap suatu stimulus atau situasi, yang kemudian
memengaruhi pikiran dan tindakan seseorang. Emosi lebih kompleks dan
melibatkan respons fisiologis serta kognitif, sedangkan afeksi adalah istilah
yang lebih luas mencakup emosi, suasana hati, dan perasaan, termasuk kasih
sayang. Keduanya merupakan bagian penting dari kebutuhan manusia untuk
membangun hubungan yang sehat dan berkontribusi pada pengalaman hidup yang
lebih bermakna.
Jika emosi merupakan
respons yang kompleks dan lebih spesifik, melibatkan perubahan fisiologis,
kognitif (pemikiran), dan perilaku. Emosi biasanya memiliki objek atau
sebab yang jelas, seperti rasa marah karena suatu kejadian. Maka afeksi mencakup
segala sesuatu yang berkaitan dengan perasaan. Afeksi bisa berupa emosi
itu sendiri, suasana hati, perasaan yang lebih ringan, bahkan sikap.
Dorongan emosi dan
afeksi adalah kekuatan internal yang memengaruhi cara kita merasakan dunia,
berinteraksi dengan orang lain, dan menjalani hidup secara keseluruhan.
Emosi, seperti
ketertarikan dan kebahagiaan, dapat memperkuat rasa ingin tahu (curiosity) dan kreativitas karena
mendorong seseorang untuk mengeksplorasi ide-ide baru, mencari solusi inovatif,
dan menghadapi tantangan dengan lebih terbuka. Rasa ingin tahu memicu
eksplorasi, sedangkan emosi positif meningkatkan fleksibilitas pikiran sehingga
memungkinkan munculnya ide-ide kreatif dan tak terduga.
Seorang seniman yang
merasa sangat antusias setelah proyek sebelumnya berhasil mungkin akan lebih
termotivasi untuk bereksperimen dengan teknik-teknik artistik baru, yang
didorong oleh emosi positif dan keinginan untuk menciptakan karya yang lebih
inovatif.
Seorang anak yang
memiliki ketertarikan pada sains dan merasakan antusiasme saat melakukan
percobaan akan didorong oleh emosi tersebut untuk mencari tahu lebih banyak,
bertanya, dan berpikir kreatif untuk memecahkan masalah.
5
Pencarian Makna dan Tujuan (Search for
Meaning / Purpose)
Dorongan mencari makna
dan tujuan hidup adalah dorongan psikologis fundamental manusia untuk
menemukan arti dan tujuan di balik keberadaannya, yang menjadi motivasi utama
dalam hidup. Konsep ini diungkapkan secara mendalam oleh Viktor Frankl
melalui logoterapi, yang menekankan bahwa kita dapat menemukan makna melalui
pekerjaan, cinta, dan sikap terhadap penderitaan, bahkan dalam kondisi paling
sulit sekali pun, serta melalui pemahaman bahwa hidup memiliki koherensi,
tujuan, dan signifikansi.
Frankl mengidentifikasi
tiga jalan untuk menemukan makna:
·
Melalui tindakan (Melakukan sesuatu): Melakukan
sebuah karya atau pencapaian.
·
Melalui pengalaman (Mengalami sesuatu): Menemukan
makna dalam keindahan, kebenaran, atau melalui pengalaman dan pertemuan dengan
orang lain.
·
Melalui sikap terhadap penderitaan
(Memilih sikap): Mengambil sikap terhadap penderitaan yang tidak dapat
dihindari.
Jadi konsep utama
logoterapi Viktor Frankl adalah bahwa pencarian makna (Will to Meaning) adalah motivasi utama
manusia, dan bahwa makna dapat ditemukan dalam berbagai situasi hidup, bahkan
penderitaan sekalipun. Frankl menekankan adanya kebebasan memilih sikap
seseorang dalam menghadapi keadaan, kemampuan untuk transendensi diri, dan tiga
cara utama menemukan makna: melalui tindakan kreatif, pengalaman, dan sikap
terhadap penderitaan yang tak terhindarkan.
·
Kebebasan Berkehendak (Freedom of Will)
Manusia memiliki
kebebasan untuk memilih sikap dan responsnya, bahkan dalam situasi yang sulit
atau tidak dapat diubah.
·
Kemauan untuk Bermakna (Will to Meaning)
Manusia memiliki
dorongan bawaan untuk menemukan makna dalam hidupnya, dan inilah motivasi utama
yang mengarahkan perilaku manusia.
·
Makna dalam Kehidupan (Meaning in Life):
Bahwa selalu ada makna yang dapat ditemukan dalam setiap situasi kehidupan, yang dapat diakses melalui berbagai cara.
Pencarian makna itu
merupakan meaning-seeking yang
berhubungan erat dengan moralitas dan sosialitas karena makna kehidupan
seringkali ditemukan melalui tindakan yang berkontribusi pada masyarakat dan
berpegang pada prinsip-prinsip etis, membentuk cara pandang dan pemahaman
tentang diri serta dunia sosial. Dalam konteks ini, moralitas menyediakan
kerangka nilai dan etika untuk mengevaluasi perilaku, sementara sosialitas
melibatkan interaksi dan kontribusi dalam masyarakat, yang keduanya saling
memengaruhi dalam menemukan tujuan dan arti hidup.
Secara keseluruhan,
pencarian makna tidak hanya tentang pengalaman pribadi, tetapi juga tentang
bagaimana kita berinteraksi dan berkontribusi pada dunia sosial, yang semuanya
diarahkan oleh prinsip-prinsip moral dan etika.
6
Kreativitas dan Imajinasi (Creativity
& Imagination)
Dorongan kreativitas
dan imajinasi merujuk pada kemampuan mental untuk menciptakan hal-hal baru
dan berpikir "di luar kebiasaan" dengan membayangkan sesuatu yang
belum ada, sehingga menghasilkan ide, solusi, dan karya yang inovatif serta
unik. Kemampuan ini sangat penting untuk memecahkan masalah, pengembangan
diri, dan ekspresi, serta dapat dipupuk melalui aktivitas seperti membaca, zikir
atau meditasi, dan kunjungan ke tempat-tempat baru. Dorongan keduanya
datang dari faktor internal seperti rasa ingin tahu, optimisme, dan ketekunan,
serta faktor eksternal berupa lingkungan yang mendukung, pengalaman baru, dan
apresiasi terhadap usaha kreatif.
Kreativitas datang dari keingintahuan (curiosity) dan dipengaruhi oleh emosi. Rasa ingin tahu mendorong eksplorasi dan keterbukaan terhadap pengalaman baru, sementara emosi, baik positif seperti kebahagiaan maupun negatif seperti frustrasi, berperan dalam memotivasi, memberikan kedalaman, atau bahkan menghambat proses kreatif tergantung pada bagaimana emosi tersebut dikelola.
Manfaat psikologis
utama dari imajinasi adalah peningkatan kreativitas, pengurangan stres dan
kecemasan, peningkatan kepercayaan diri, serta peningkatan kinerja dan
pencapaian tujuan. Imajinasi juga membantu dalam pemecahan masalah,
pengembangan diri, dan dapat menjadi alat untuk mencapai ketenangan dan kesehatan
mental yang lebih baik.
Imajinasi berfungsi sebagai kanvas untuk ide-ide baru dan inovatif, memungkinkan seseorang untuk berpikir di luar kebiasaan dan melampaui batasan konvensional. Berimajinasi dapat membantu meredakan kecemasan, stres, dan ketakutan dengan memvisualisasikan lingkungan yang menenangkan, yang dapat menurunkan detak jantung dan hormon stres. Dengan membayangkan diri berhasil mencapai tujuan, imajinasi membangun kepercayaan diri dan keyakinan diri, memberikan dorongan motivasi yang kuat untuk menghadapi tantangan. Ia sebagai muhasabah dalam memahami diri sendiri, mengidentifikasi tujuan hidup, dan memvisualisasikan masa depan yang diinginkan, yang merupakan dorongan kuat untuk mewujudkan hal tersebut. Berimajinasi memungkinkan seseorang untuk melihat masalah dari perspektif yang berbeda dan mencari solusi baru yang kreatif, sehingga membantu dalam memecahkan masalah yang ada.
7
Rasa Keadilan dan Moral (Sense of Justice
/ Morality)
Dorongan rasa keadilan
dan moral adalah keinginan inheren manusia untuk memperlakukan semua orang
secara setara dan adil, berdasarkan nilai-nilai baik dan buruk yang diyakini
sebagai kebenaran. Konsep ini meliputi pemahaman akan hak dan kewajiban,
serta penolakan terhadap ketidakadilan, kefanatikan yang buta, dan perlakuan
diskriminatif, bahkan ketika hal itu mungkin bertentangan dengan keinginan
pribadi atau hukum formal.
Keadilan moral menuntut
perlakuan yang seimbang antara hak dan kewajiban, serta pengakuan akan martabat
dasar setiap individu untuk diperlakukan secara setara. Moralitas setidaknya
bisa membentuk standar tentang apa yang dianggap benar dan salah, serta pantas
atau tidak pantas. Meskipun tidak selalu identik, keadilan moral menjadi
fondasi masyarakat yang beradab, memengaruhi pembentukan, penafsiran, dan
penerapan hukum untuk mencapai hasil yang adil dan tidak diskriminatif. Sehingga,
moralitas berfungsi sebagai panduan perilaku dan mempengaruhi sociality, creativity, serta pencarian makna.
8
Kebutuhan Kontrol dan Otonomi (Control
& Autonomy)
Kebutuhan kontrol dan
otonomi merujuk pada keinginan mendasar manusia untuk memiliki kendali
atas diri sendiri dan bertindak sesuai dengan nilai serta keinginan pribadi,
bukan karena tekanan atau kontrol eksternal. Otonomi adalah rasa kehendak
bebas dan pengarahan diri, sedangkan kontrol adalah tindakan atau situasi yang
menekankan kepatuhan atau mengikuti arahan tertentu. Pemenuhan kebutuhan
otonomi penting untuk motivasi dan kesejahteraan, sementara perasaan
dikendalikan atau ditekan dapat berdampak negatif pada motivasi intrinsik dan
menyebabkan perasaan tidak berdaya.
Elemen kunci kebutuhan otonomi meliputi:
·
Kehendak Bebas (Volition):
Komitmen dan keinginan
untuk bertindak karena pilihan sendiri, bukan karena terpaksa.
·
Pilihan (Choice):
Adanya pilihan untuk
bertindak atau tidak bertindak, yang memberi kendali atas tindakan.
·
Pengaturan Diri (Self-Regulation):
Kemampuan untuk
mengatur diri sendiri dan mengarahkan tindakan berdasarkan nilai dan minat
pribadi.
Kebutuhan akan kontrol
dan otonomi sangat mendasar bagi psikologis manusia, karena pemenuhannya
berkaitan erat dengan kesejahteraan psikologis, motivasi, harga diri, dan
kemampuan mengatur emosi. Kebutuhan ini memungkinkan individu merasa
memiliki pilihan, mampu membuat keputusan sendiri, dan mengelola hidupnya tanpa
campur tangan eksternal yang berlebihan. Sebaliknya, kurangnya otonomi dan
kontrol dapat menyebabkan stres, kecemasan, depresi, motivasi menurun, dan rasa
tidak berdaya.
Kontrol dan otonomi
berinteraksi dengan curiosity dan creativity, karena keinginan mengontrol
lingkungan mendorong eksperimen dan inovasi.
Hubungan
Interdependen
Hubungan
interdependensi disini adalah kondisi atau kualitas saling bergantung
antara sifat dasar manusia
Secara ringkas, sifat
dasar manusia membentuk jaringan dinamis, bukan silo terpisah. Contohnya:
• Curiosity → Creativity: Keingintahuan
menstimulasi ide baru dan inovasi.
Keingintahuan (Curiosity) adalah kekuatan pendorong yang vital untuk
kreativitas (Creativity) dan
inovasi. Dengan rasa ingin tahu, seseorang akan terus-menerus mencari
informasi baru, melihat berbagai perspektif, menantang status quo, dan
mengaitkan ide-ide yang berbeda untuk menghasilkan solusi-solusi orisinal dan
inovatif.
• Sociality → Morality: Interaksi sosial
membentuk kesadaran moral dan perilaku etis.
Sociality
atau interaksi sosial adalah dasar bagi pembentukan moralitas (Morality). Melalui interaksi dengan
orang lain, kita belajar dan memahami norma-norma sosial, aturan perilaku yang
dianggap benar atau salah, serta mengembangkan kesadaran akan tanggung jawab
kita terhadap kesejahteraan bersama, yang kemudian membentuk dasar bagi
perilaku etis dalam masyarakat.
• Emotion → Search for Meaning:
Pengalaman emosional mendorong refleksi hidup dan pencarian tujuan.
Emotion atau pengalaman emosional memang dapat mendorong refleksi hidup dan pencarian tujuan (Search for Meaning), karena emosi seperti kejutan, ketertarikan, kebingungan, dan kekaguman memotivasi orang untuk belajar dan menjelajahi hal baru, sehingga memunculkan pemahaman yang lebih mendalam tentang diri dan dunia, yang pada akhirnya membantu mereka menemukan makna dan arah hidup. Dengan merefleksikan emosi, seseorang dapat mengidentifikasi nilai-nilai, kelebihan, dan kekurangan diri, yang krusial untuk menetapkan tujuan yang bermakna dan dapat dicapai.
• Autonomy → Curiosity & Creativity:
Kebebasan memfasilitasi eksplorasi dan inovasi.
Kebebasan adalah
pendorong utama eksplorasi dan inovasi karena memberikan ruang bagi individu
dan organisasi untuk bereksperimen, menemukan ide-ide baru, dan mengembangkan
solusi kreatif untuk masalah, yang mengarah pada terobosan dan kemajuan di
berbagai bidang seperti pendidikan, teknologi, dan bisnis. Dengan
kebebasan, individu dapat melampaui batasan-batasan yang ada, mengembangkan
kreativitas, serta menemukan minat dan bakat unik mereka, sehingga menghasilkan
karya yang orisinal dan bernilai.
• Survival → Curiosity & Emotion:
Dorongan bertahan hidup memicu eksplorasi lingkungan dan respons emosional
terhadap ancaman.
Dorongan bertahan hidup
memicu eksplorasi lingkungan untuk
mencari sumber daya dan menghindari bahaya, serta mengaktifkan respons
emosional seperti takut atau waspada terhadap ancaman untuk meminimalkan risiko
dan meningkatkan peluang untuk tetap hidup.*


Komentar
Posting Komentar