Oleh:
M Muhar Omtatok
Perilaku pengambilan
risiko merupakan salah satu aspek penting dalam psikologi kepribadian dan
manajemen keputusan. Perilaku pengambilan risiko adalah tindakan yang
mengabaikan potensi ancaman dengan harapan akan imbalan atau kesenangan, dan
merupakan aspek penting dalam psikologi kepribadian serta manajemen keputusan
karena memengaruhi pengambilan keputusan di berbagai aspek kehidupan dan
merupakan cerminan karakter individu. Memahami faktor-faktor psikologis di
baliknya seperti pengalaman, emosi, dan persepsi dapat membantu individu serta
organisasi dalam mengembangkan strategi pengambilan keputusan yang lebih baik
dan efektif.
Dalam literatur
psikologi, individu sering dikategorikan menjadi Risk Taker dan Risk Averse.
Seorang Risk Taker cenderung melihat
ketidakpastian sebagai peluang, sedangkan seorang Risk Averse memandang ketidakpastian sebagai ancaman yang harus
dihindari. Perbedaan ini dipengaruhi oleh faktor kepribadian, kognisi, emosi,
serta konteks lingkungan (Sim B. Sitkin &
Amy L. Pablo, 1992).
Dari perspektif
psikologi kepribadian, Risk Taker umumnya
dikaitkan dengan skor tinggi pada dimensi openness
to experience dan extraversion
dalam teori Big Five Personality,
sedangkan Risk Averse lebih dekat
dengan conscientiousness dan neuroticism (Nicholson et al., 2005). Penelitian Zuckerman (1994) tentang sensation seeking juga menunjukkan bahwa
individu dengan kecenderungan mencari sensasi lebih berani mengambil risiko,
baik dalam konteks bisnis, investasi, maupun kehidupan sehari-hari.
Dalam bidang ekonomi
perilaku, Kahneman dan Tversky (1979) melalui Prospect Theory menjelaskan bahwa individu lebih cenderung
menghindari kerugian (loss aversion)
daripada mengejar keuntungan yang setara. Fenomena ini menjadi dasar mengapa
sebagian besar orang bersifat Risk Averse.
Namun, dalam konteks kewirausahaan dan kepemimpinan, sifat Risk Taker dianggap penting untuk mendorong inovasi dan penciptaan
nilai baru (McClelland, 1961; Stewart
& Roth, 2001).
Secara manajerial, baik
Risk Taker maupun Risk Averse memiliki peran strategis.
Pemimpin yang Risk Taker mampu memacu
inovasi, mengambil langkah berani, dan membuka peluang pertumbuhan organisasi.
Namun, sifat ini juga rentan membawa organisasi pada kegagalan bila tidak
diimbangi perhitungan matang. Sebaliknya, pemimpin yang Risk Averse menjaga stabilitas dan keberlanjutan organisasi, tetapi
berisiko kehilangan momentum perubahan. Dengan demikian, keseimbangan antara
keberanian mengambil risiko dan kehati-hatian merupakan kunci dalam pengambilan
keputusan strategis (March & Shapira,
1987).
Risk
Taker
Risk
Taker merupakan orang yang berani mengambil risiko. Individu
atau organisasi yang cenderung berani menghadapi ketidakpastian demi peluang
keuntungan yang lebih besar.
Dilihat dari
karakteristik, Risk Taker itu berani
mencoba hal baru walaupun belum pasti hasilnya, lebih suka mengambil keputusan
cepat, melihat risiko sebagai peluang bukan ancaman. Memang biasanya mereka
lebih kreatif, inovatif, dan adaptif. Kelebihannya tentu bisa menemukan peluang
besar, inovasi, dan potensi keuntungan lebih tinggi. Cuma kekurangannya
adalah rentan mengalami kerugian besar
bila perhitungan kurang matang.
Kalau kita bicara Risk Taker dalam di bisnis keuangan
digital, banyak contoh nyata yang bisa dilihat.
a.
Investor
kripto (cryptocurrency)
Generasi saat ini
banyak yang langsung terjun membeli Bitcoin, Ethereum, atau altcoin lain
meskipun fluktuasi harganya sangat tinggi. Mereka tidak terlalu takut rugi,
karena lebih melihat potensi “to the moon”
dan kebebasan finansial.
b.
Pelaku
NFT & Web3
Anak muda yang berani
membuat, membeli, atau menjual karya digital berupa NFT. Padahal pasarnya masih
baru, tidak pasti, dan sering dianggap gelembung. Tapi justru mereka melihat
peluang di situ.
c.
Trader
saham harian (day trader)
Berbeda dengan investor
konvensional yang menunggu dividen jangka panjang, trader harian mengambil risiko
besar dengan jual-beli cepat. Mereka percaya diri pada analisis teknikal dan
tren pasar, meskipun bisa untung-rugi dalam hitungan menit.
d. Startup fintech
Banyak anak muda yang
mendirikan startup di bidang financial
technology, misalnya aplikasi pinjaman online, investasi digital, atau
pembayaran berbasis blockchain. Mereka menantang sistem keuangan tradisional
bank, padahal regulasinya ketat dan penuh risiko hukum.
e. Influencer keuangan digital
Ada juga figur-figur yang
berani mengedukasi publik lewat media sosial tentang saham, kripto, atau
investasi digital. Padahal, mereka menghadapi risiko disalahpahami, dikritik,
bahkan dianggap spekulatif.
Jadi, ada generasi tertentu sekarang yang Risk Taker di bisnis keuangan digital melihat ketidakpastian sebagai peluang, bukan ancaman. Mereka lebih rela “berani rugi sekarang” demi kesempatan menjadi early adopter yang bisa menuai hasil besar nanti.
Risk
Averse
Risk
Averse merupakan orang yang menghindari risiko. Individu
atau organisasi yang cenderung memilih jalan aman dengan menghindari
ketidakpastian. Risk Averse itu kecenderungan
untuk menghindari risiko dan lebih memilih stabilitas serta keamanan misalnya
untuk modal mereka, daripada mengejar potensi keuntungan yang lebih besar namun
tidak pasti.
Dilihat dari
karakteristik, mereka lebih suka memilih opsi yang pasti dan stabil, mengutamakan
keamanan dan keberlanjutan daripada keuntungan besar. Berhati-hati, sering
melakukan analisis mendalam sebelum bertindak. Lebih suka kepastian jangka
panjang.
Kelebihannya memang
lebih stabil, aman, dan cenderung mengurangi potensi kerugian. Namun kekurangannya
bisa kehilangan peluang besar karena terlalu berhati-hati.
Ada individu dalam
keuangan, mereka yang fokus menjaga
keamanan dan kestabilan, bukan mengejar pertumbuhan cepat. Mereka percaya
prinsip: “lebih baik sedikit tapi pasti,
daripada banyak tapi bisa hilang”.
a. Memilih menabung di bank
Alih-alih mencoba
saham, kripto, atau instrumen berisiko tinggi, banyak juga yang lebih nyaman
menaruh uangnya di rekening tabungan atau deposito meski bunga relatif kecil.
Alasannya: aman, terjamin, dan tidak bikin deg-degan.
b. Investor reksa dana pasar uang
Beberapa individu
memilih reksa dana pasar uang atau obligasi negara (SBR, ORI, Sukuk Ritel)
karena dianggap paling aman. Mereka menghindari volatilitas pasar saham dan
kripto.
c. Generasi sandwich (punya tanggungan
keluarga)
Generasi sandwich
adalah istilah untuk orang-orang yang berada di tengah-tengah, harus
menanggung beban finansial dan merawat dua generasi lain: orang tua mereka
(generasi atas) dan anak-anak mereka sendiri (generasi bawah). Istilah ini
pertama kali dicetuskan oleh Dorothy A. Miller pada tahun 1981 dan
menggambarkan seseorang yang seperti isian sandwich, terjepit di antara orang
tua dan anak-anaknya. Anak muda yang harus menghidupi orang tua atau adik
biasanya lebih Risk Averse. Mereka
cenderung menahan diri dari spekulasi keuangan berisiko tinggi dan memilih
instrumen aman agar arus kas keluarga tetap stabil.
d. Pegawai yang mengandalkan dana
pensiun
Banyak generasi ‘makan gaji’ dengan skema pensiun atau
BPJS Ketenagakerjaan, dan mengandalkan itu sebagai jaminan masa depan. Mereka
jarang mengambil risiko investasi di luar itu karena percaya sistem formal
lebih aman.
e. Lebih suka asuransi daripada
investasi
Alih-alih mengejar
keuntungan dari trading atau bisnis digital, mereka memilih proteksi lewat
asuransi kesehatan, jiwa, atau pendidikan. Bagi mereka, keamanan finansial
lebih penting daripada profit besar. Di Indonesia tak banyak kelompok ini. Asuransi
di Indonesia kurang dipercaya masyarakat karena maraknya kasus gagal bayar, serta
prosedur klaim yang berbelit-belit dan kurangnya pemahaman mengenai produk
asuransi. Dampak dari kejadian ini, banyak konsumen meragukan kejujuran
dan ketidakpedulian perusahaan asuransi terhadap nasabah.
Risk
Neutral
Risk neutral (netral
risiko) adalah suatu pendekatan dalam keuangan dan ekonomi di mana
seseorang atau investor tidak mempertimbangkan risiko saat membuat keputusan
investasi atau ekonomi lainnya, melainkan fokus semata-mata pada potensi
keuntungan yang diharapkan.
Memang sesungguhnya risiko
dapat bersifat situasional, dan orang-orang umumnya tidak berada pada satu
ekstrem saja, melainkan memiliki spektrum sikap terhadap risiko yang
kompleks. Seseorang bisa jadi Risk Taker
dalam satu aspek kehidupan, seperti investasi agresif untuk pertumbuhan modal,
namun juga Risk Averse di aspek lain,
misalnya memilih asuransi kesehatan yang komprehensif untuk keamanan jangka
panjang, atau sebaliknya.
Analogi
Antara Risk Taker Dan Risk Averse
Orang yang Risk Taker biasanya mirip dengan
seseorang traveling yang suka jalan tapi tanpa peta atawa GPS map. Mereka percaya diri, optimis, dan yakin bahwa di setiap
jalan ada pengalaman baru. Kalau ada peluang usaha baru, misalnya bisnis kopi
kekinian, mereka langsung ambil langkah tanpa terlalu lama mikir. Mereka
percaya bahwa “rezeki anak soleh”
pasti datang. Kadang untung besar, kadang juga buntung, tapi bagi mereka itu
bagian dari permainan hidup.
Dari sisi pendekatan tacit knowledge, ini menarik. Karena ini pengalaman pribadi, subjektif, dan
berbasis pengalaman yang sulit untuk diartikulasikan, dituliskan, atau
dikomunikasikan secara formal kepada orang lain. Hal ini ada pada pikiran
dan pengalaman individu, mencakup "know-how"
seperti layaknya intuisi, wawasan, dan penilaian, yang seringkali tidak disadari
atau sulit untuk dijelaskan secara verbal.
Sebaliknya, orang yang Risk Averse mirip dengan traveler yang
selalu bawa itinerary lengkap. Semua jadwal sudah disusun, tiket dan hotel
aman, dan selalu ada rencana cadangan. Kalau mau buka usaha, mereka akan riset
pasar dulu, cek tren konsumen, hitung modal sampai detail, baru berani mulai.
Mereka lebih memilih jalan yang aman, misalnya berbisnis warung sembako
daripada ikut tren kopi yang bisa naik-turun. Bagi mereka, “lebih baik aman daripada menyesal”, itu prinsip hidup.
Prinsip hidup ini bisa
saja diterima, karena lebih baik mengambil tindakan pencegahan sekarang untuk
menghindari masalah di masa depan, daripada membuat kesalahan dan kemudian
menyesalinya. Prinsip ini menekankan pentingnya kehati-hatian dan
perencanaan untuk mencegah potensi risiko dan kerugian di kemudian hari. Meskipun
terkadang ‘terlalu berhati-hati ‘jadi
samar maknanya dengan ‘takut’, hingga
bisa juga menghambat kemajuan.
Dalam hal cinta pun
bisa terlihat bedanya. Bagi seorang Risk
Taker, cinta dipandang sebagai sebuah petualangan yang penuh kemungkinan,
di mana risiko adalah bagian tak terpisahkan yang justru mendorong pertumbuhan
dan pengalaman yang lebih dalam, bukan penghalang. Pengambil risiko tidak
takut pada kerentanan atau kemungkinan kehilangan, melainkan melihatnya sebagai
peluang untuk membangun ikatan yang kuat dan meraih kepuasan yang mendalam,
karena cinta sejati dianggap sepadan dengan semua risiko yang terlibat.
Bagi individu Risk Averse dalam hal cinta, mereka akan
mengutamakan keamanan, stabilitas, dan prediktabilitas dalam hubungan, daripada
potensi keuntungan emosional yang lebih besar tetapi berisiko. Mereka akan
memilih pasangan dan situasi yang minim ketidakpastian, membangun hubungan
berdasarkan kepastian, dan lebih memilih menjaga "modal" emosional mereka agar tidak hilang dibandingkan mencari
hubungan yang penuh gejolak atau eksplorasi yang berisiko tinggi.
Dalam kehidupan nyata,
keduanya punya tempat masing-masing. Dunia bisnis, inovasi, dan politik sering
membutuhkan gaya “Sopir Bus Antar
Provinsi” yang berani mengambil jalan cepat meskipun penuh risiko. Tetapi
untuk bidang keuangan keluarga, kesehatan, atau perencanaan jangka panjang,
gaya “Sopir Mobil Pribadi” sering
lebih tepat karena stabil dan terjaga.
Sudut
Pandang Psikologi
Perilaku Risk Taker dan Risk Averse sangat erat kaitannya dengan kepribadian, emosi,
pengalaman hidup, serta faktor neuropsikologi. Faktor-faktor pada perilaku Risk Taker (pengambil risiko) dan Risk Averse (penghindar risiko) ini
saling terkait dan menentukan sejauh mana seseorang bersedia atau tidak
bersedia mengambil risiko, dengan Risk
Taker cenderung berani dan Risk
Averse lebih memilih keamanan.
a. Risk Taker dalam Psikologi
Analisis kepribadian
dengan model Big Five atau OCEAN mengukur lima ciri kepribadian utama:
Keterbukaan (Openness), Ketelitian (Conscientiousness), Ekstroversi (Extraversion), Keramahan (Agreeableness), dan Neurotisisme (Neuroticism). Model ini membantu
memahami perilaku individu, kecocokan dalam lingkungan sosial dan kerja, serta
dapat digunakan dalam konteks psikologi klinis dan rekrutmen untuk pengembangan
diri dan tim.
Dalam kerangka Big
Five, individu dengan kecenderungan Risk
Taker biasanya memiliki Openness to
Experience yang tinggi. Mereka terbuka pada hal baru, kreatif, dan senang
mencoba ide-ide segar. Selain itu, mereka cenderung tinggi dalam Extraversion, karena lebih percaya diri,
aktif, dan berani mengambil keputusan.
Pada dimensi Conscientiousness, seorang Risk Taker bisa berada di level menengah
hingga rendah, sebab sifat terlalu perfeksionis atau terstruktur justru bisa
menghambat spontanitas mereka. Dari sisi Neuroticism,
Risk Taker umumnya lebih rendah, mereka
tidak mudah cemas, sehingga berani menghadapi ketidakpastian.
Singkatnya, profil Risk Taker menurut Big Five adalah:
Openness tinggi, Extraversion tinggi, Conscientiousness moderat/rendah,
Neuroticism rendah.
Sering juga terkait
dengan sifat sensation seeking. Sifat
sensation seeking atau mencari
sensasi adalah ciri kepribadian yang ditandai dengan keinginan untuk
pengalaman yang baru, kompleks, dan intens, termasuk kesediaan untuk mengambil
risiko demi pengalaman tersebut. Sifat ini mencakup keinginan untuk
tantangan, hal baru, dan petualangan, serta kecenderungan untuk menghindari
kebosanan dan mencari stimulasi.
Emosi dan kognisi Risk Taker atau individu yang suka
mengambil risiko saling terkait: emosi positif seperti optimisme dan
kepercayaan diri mendorong perilaku Risk
Taker, sementara emosi negatif seperti takut dan cemas dapat mengurangi
risiko tersebut, kadang menurunkan persepsi risiko menganggap bahaya tidak sebesar kenyataannya.
Kognisi atau
proses berpikir, sangat memengaruhi cara individu memahami risiko, penilaian
situasi yang tidak akurat dan bias kognitif seperti intoleransi ketidakpastian
dapat memicu perilaku berisiko.
Sepertinya perlu juga dikaitkan
dari reward-seeking behavior, suatu tindakan
yang termotivasi oleh keinginan untuk mendapatkan hadiah, kesenangan, atau
pengalaman positif, yang dipengaruhi oleh sistem penghargaan otak dan
dilepaskannya zat kimia seperti dopamin. Perilaku ini mendorong individu
untuk terus mencari dan mengulang tindakan yang menghasilkan kesenangan, yang
dapat menyebabkan pembentukan kebiasaan dan bahkan kecenderungan untuk
kecanduan ketika penghargaan berhenti. Karena jika dilihat dari implikasi
psikologis, bisa jadi sangat inovatif, berani mengambil langkah maju. Namun bila
tidak seimbang, bisa cenderung impulsif, ceroboh, bahkan kecanduan, bisa
dilihat dari aktifitas gambling atau investasi spekulatif.
b. Risk Averse dalam Psikologi
Individu yang Risk Averse sering menunjukkan Conscientiousness yang tinggi. Mereka
teliti, penuh pertimbangan, dan suka membuat perencanaan matang sebelum
bertindak. Pada Neuroticism,
tingkatnya bisa lebih tinggi karena kecenderungan merasa cemas atau khawatir
terhadap kemungkinan gagal atau rugi.
Pada dimensi Openness, seorang Risk Averse cenderung rendah hingga moderat. Mereka kurang suka
perubahan drastis, lebih nyaman dengan rutinitas dan stabilitas. Dari sisi Extraversion, mereka bisa lebih rendah,
sebab introvert cenderung lebih berhati-hati dibanding ekstrovert yang penuh
dorongan sosial.
Profil Risk Averse menurut Big Five adalah: Conscientiousness tinggi, Neuroticism tinggi, Openness rendah-moderat, Extraversion
rendah-moderat.
Emosi dan kognisi Risk Averse lebih fokus pada potensi
kerugian daripada keuntungan (loss
aversion), individu yang lebih takut rugi Rp. 1 juta daripada senang
dapat Rp. 1 juta. Konsep Loss aversion
ini adalah bagian penting dari Teori Prospek yang dikemukakan oleh Daniel
Kahneman dan Amos Tversky. Loss
aversion adalah sebuah bias kognitif yang menyebabkan seseorang lebih
merasakan sakit kehilangan daripada kesenangan mendapatkan keuntungan yang
setara. Ini berarti orang lebih suka menghindari kerugian, bahkan jika itu
berarti mereka kehilangan peluang untuk mendapatkan keuntungan yang lebih
besar.
Sepertinya perlu juga dikaitkan
respons amigdala. Respons amigdala
adalah reaksi otak otomatis yang diatur oleh amigdala, terutama terhadap
ancaman dan situasi emosional, memicu respons seperti fight-or-flight - lawan atau lari, dengan memengaruhi detak jantung, pernapasan,
dan pelepasan hormon stres. Amigdala juga terlibat dalam pemrosesan emosi
positif, pembentukan memori emosional, serta pengaturan perhatian dan
pengambilan keputusan, yang dipengaruhi oleh "warna emosional" dari informasi
yang diterima.
Dalam perspektif
psikologi positif, sikap Risk Taker (pengambil
risiko) dan Risk Averse (penghindar
risiko) tidak dapat dinilai sebagai benar atau salah, melainkan sebagai
preferensi pribadi yang wajar dan merupakan bagian dari spektrum perilaku
manusia. Tidak ada satu cara yang lebih unggul, karena kedua sikap ini
memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing tergantung pada tujuan dan
konteksnya.
Risk
Taker lebih cocok di situasi yang butuh inovasi,
kreativitas, atau terobosan, sedangkan Risk
Averse lebih cocok di situasi yang butuh stabilitas, konsistensi, dan
perencanaan jangka panjang. Karena Risk
Taker dan Risk Averse adalah dua
strategi adaptasi otak manusia terhadap ketidakpastian. Meski idealnya
seseorang bisa fleksibel, tahu kapan harus berani mengambil risiko, kapan harus
bermain aman.
Tentu banyak analisis lain
bisa dipakai termasuk dengan Myers-Briggs
Type Indicator (MBTI), baik untuk Risk Taker yang melihat risiko sebagai
tantangan dan peluang untuk tumbuh. Serta Risk Averse yang cenderung menjaga
kestabilan, menghindari ketidakpastian, dan lebih fokus pada keamanan jangka
panjang.
Dengan kata lain, gaya
pengambilan risiko seseorang sangat erat kaitannya dengan struktur kepribadian.
Risk Taker lebih mengandalkan
keberanian, kreativitas, dan spontanitas; sedangkan Risk Averse lebih menonjolkan perencanaan, kehati-hatian, dan
keamanan.
Bisa dikatakan, Risk
Taker itu laksana orang yang hidup
dengan semboyan “Gas aja dulu”, sementara Risk
Averse lebih pada prinsip “lebih baik lambat asal selamat”.
Dari perspektif SDM, tentunya
sama hal bahwa Risk Taker adalah
individu yang berani mengambil keputusan dan peluang berisiko tinggi demi
keuntungan besar dan inovasi, sementara Risk
Averse adalah individu yang lebih memilih keamanan dan stabilitas,
cenderung menghindari risiko, dan mengutamakan pelestarian modal serta
keuntungan yang stabil, bukan pertumbuhan agresif. Kedua sikap ini penting
bagi organisasi karena memengaruhi strategi, budaya kerja, serta jenis proyek
atau investasi yang akan diambil. *



Komentar
Posting Komentar