Oleh: M. Muhar Omtatok
Anda pernah tidak merasa
kesal sama rekan kerja karena beda cara kerja, atau merasa atasan tidak adil memberi
tugas? Tenang saja, Anda tidak sendirian. Konflik di kantor itu wajar sekali.
Bahkan, kalau dipikir-pikir, organisasi tanpa konflik justru mencurigakan,
seperti kopi tanpa kafein, ada tapi tidak “hidup”.
Yang penting bukan soal
ada atau tidaknya konflik, tapi bagaimana kita mengelola dan menegosiasikannya.
Konflik
Itu Apa Sih?
Secara sederhana,
konflik adalah benturan kepentingan, nilai, atau cara pandang. Konflik bisa
muncul karena kepentingan, nilai, dan cara pandang yang berbeda, yang dapat
diperparah oleh komunikasi yang buruk, perbedaan kebutuhan, ketidakadilan, atau
perselisihan tentang prioritas.
Konflik biasanya bisa
muncul karena perbedaan dalam Tugas, Hubungan, dan Proses, yang
masing-masing mewakili jenis konflik yang berbeda.
Konflik
Tugas timbul dari ketidaksepakatan tentang konten atau
tujuan pekerjaan, misalnya, bagaimana menyelesaikan proyek, Konflik Hubungan berasal dari konflik
pribadi antar individu, misalnya, perbedaan kepribadian atau gaya
komunikasi. Dan Konflik Proses muncul dari ketidaksepakatan tentang bagaimana
pekerjaan harus dilakukan, misalnya saja, prosedur kerja atau alur kerja.
Kalau dibiarkan,
konflik bisa bikin suasana kerja panas. Tapi kalau dikelola, konflik bisa
memunculkan ide-ide segar dan cara baru yang lebih efektif.
Kuncinya:
Negosiasi
Nah, di sinilah
negosiasi berperan. Negosiasi bukan cuma urusan politikus atau pebisnis besar.
Di kantor atau tempat kerja, negosiasi terjadi tiap hari, antara atasan dan
bawahan, antar-rekan kerja, bahkan dengan diri sendiri saat menentukan
prioritas.
Menurut Roger Fisher
dan William Ury (1981) dalam buku mereka, Getting to Yes, negosiasi yang sehat adalah negosiasi
berprinsip yang didasarkan pada empat pilar utama:
1.
Pisahkan orangnya dari masalah
Fokuslah pada masalah
yang ada, bukan pada individu yang terlibat. Dengan kata lain, bersikaplah baik
pada orangnya, tetapi bersikaplah keras pada masalahnya. Negosiasi sering kali
melibatkan emosi, ego, dan perbedaan persepsi. Untuk mencapai kesepakatan yang
bijak, penting untuk:
·
Mengatasi
respons emosional: Jangan bereaksi secara emosional,
meskipun pihak lain melakukannya.
·
Memahami
persepsi pihak lain: Cobalah untuk menempatkan diri
pada posisi mereka.
·
Membangun
hubungan kerja sama: Anggaplah pihak lain sebagai
mitra, bukan sebagai musuh.
2.
Fokus pada kepentingan, bukan posisi
Posisi adalah apa yang
Anda katakan ingin Anda capai, sedangkan kepentingan adalah alasan di balik
posisi tersebut. Negosiator yang tidak efektif cenderung bersikeras pada posisi
mereka. Negosiasi yang sehat harus:
·
Mengidentifikasi
kepentingan bersama: Mencari kebutuhan, keinginan, dan
ketakutan yang mendasari posisi kedua belah pihak.
·
Mengubah
perbedaan menjadi peluang: Jika ada kepentingan yang
berbeda, cari cara agar perbedaan tersebut dapat saling melengkapi untuk
menciptakan solusi yang lebih baik
3.
Hasilkan berbagai pilihan untuk keuntungan bersama
Jangan terjebak dalam
pola pikir "menang-kalah"
atau terburu-buru mengambil keputusan. Negosiasi yang sehat mendorong
penciptaan solusi yang saling menguntungkan atau win-win solution. Untuk itu, Anda perlu:
·
Memisahkan
proses ide dari evaluasi: Lakukan curah pendapat untuk
menghasilkan sebanyak mungkin ide tanpa langsung menilainya.
·
Perluas
pilihan yang ada: Jangan terpaku pada satu jawaban
tunggal.
4.
Tegaskan penggunaan kriteria objektif
Berdasarkan buku Getting to Yes, kriteria objektif
digunakan untuk memastikan kesepakatan didasarkan pada standar yang adil dan
independen, bukan pada keinginan sepihak. Penggunaan kriteria ini akan
mengurangi tekanan dan pertikaian, serta membuat proses negosiasi menjadi lebih
efisien dan beradab.
·
Nilai
pasar: Kriteria ini merujuk pada harga atau nilai suatu
barang atau layanan yang umum berlaku di pasar.
Contoh: Dalam
negosiasi gaji, nilai pasar adalah kisaran gaji yang diterima oleh orang-orang
dengan posisi, pengalaman, dan lokasi yang serupa.
·
Standar
profesional: Standar ini mengacu pada aturan atau
pedoman yang diakui dalam suatu industri atau profesi.
Contoh: Saat
negosiasi mengenai kualitas pekerjaan, kedua pihak dapat mengacu pada standar
industri atau praktik terbaik yang berlaku. Misalnya, dalam konstruksi, standar
profesional mencakup kode bangunan dan pedoman keselamatan.
·
Preseden
atau dasar hukum: Kriteria ini menggunakan contoh dari
kasus atau kesepakatan sebelumnya, atau peraturan hukum yang relevan.
Contoh: Dalam
penyelesaian sengketa, rujukan pada putusan pengadilan sebelumnya dapat menjadi
dasar yang kuat. Selain itu, hukum acara perdata juga bisa digunakan sebagai
kriteria objektif.
·
Pendapat
ahli:
Kriteria ini melibatkan pandangan atau penilaian dari individu yang memiliki
pengetahuan atau keahlian khusus di bidang tertentu.
Contoh: Dalam
negosiasi yang melibatkan masalah teknis, seperti penilaian suatu properti atau
barang antik, pihak-pihak dapat sepakat untuk melibatkan penilai atau ahli
independen yang kredibel.
·
Penting
untuk diingat:
Saat menggunakan
kriteria objektif, kedua belah pihak harus terbuka dan bersedia mengeksplorasi
standar lain yang mungkin juga valid.
Tujuan utama adalah
mencapai kesepakatan yang bijak, bukan untuk memaksakan kriteria versi Anda
sendiri.
Dengan menerapkan
keempat prinsip ini, negosiasi dapat menghasilkan kesepakatan yang bijak,
efisien, dan tetap menjaga hubungan baik antara pihak-pihak yang terlibat.
Tips
Ringan Menghadapi Konflik di Kantor atau Tempat Kerja
Ada beberapa tips
ringan untuk menghadapi konflik di kantor atau tempat kerja, agar situasi tidak
menjadi semakin rumit dan merusak hubungan profesional:
Saat
konflik baru mulai muncul
·
Identifikasi
sumber masalahnya. Pahami apa yang sebenarnya
menjadi pemicu konflik, apakah itu perbedaan pendapat, salah paham, atau
masalah pribadi. Jangan biarkan masalah berkembang menjadi konflik yang lebih
besar.
·
Tetap
tenang dan profesional. Hindari bereaksi secara
emosional dan jangan terpancing amarah. Tetaplah fokus pada masalah yang sedang
dihadapi, bukan pada personalisasinya.
·
Hindari
bergosip. Jangan ceritakan keluhan Anda ke banyak orang
karena ini akan membuat masalah semakin melebar dan memperburuk reputasi Anda.
·
Atur
ekspektasi. Setiap orang memiliki ekspektasi dan gaya
kerja yang berbeda. Menerima perbedaan ini dapat membantu mencegah
kesalahpahaman di masa depan.
Saat
menghadapi pihak yang berkonflik
·
Ajak
bicara baik-baik. Jika memungkinkan, ajak rekan
kerja Anda berbicara empat mata. Pilih waktu dan tempat yang tepat, misalnya
saat jam istirahat di tempat yang tenang.
·
Dengarkan
dengan aktif. Biarkan pihak lain menyampaikan
sudut pandangnya tanpa interupsi. Berikan perhatian penuh agar mereka merasa
didengarkan dan dipahami. Setelah itu, sampaikan juga pandangan Anda dengan tenang
dan jelas.
·
Fokus
pada solusi, bukan menyalahkan. Alih-alih
mencari siapa yang salah, ajaklah pihak yang berkonflik untuk mencari solusi
bersama yang menguntungkan semua pihak.
·
Turunkan
ego. Mengakui
bahwa setiap orang bisa berbuat salah akan membantu membuka ruang diskusi yang
lebih konstruktif.
Jika
konflik tidak selesai
·
Libatkan
atasan atau HRD. Jika konflik tidak dapat
diselesaikan secara internal, minta bantuan pihak ketiga yang netral seperti
atasan atau HRD untuk menjadi mediator. Mereka dapat membantu memandu proses
penyelesaian secara adil dan sesuai dengan kebijakan perusahaan.
·
Buat
kesepakatan baru. Setelah masalah selesai, buatlah
kesepakatan atau komitmen baru agar hal serupa tidak terjadi lagi di kemudian
hari.
·
Ambil
pelajaran dari konflik. Jadikan konflik sebagai
bahan evaluasi untuk meningkatkan kemampuan komunikasi dan manajemen konflik
Anda di masa depan.
Akhirnya,
Konflik itu ibarat api.
Kalau dibiarkan, bisa membakar habis hubungan kerja. Tapi kalau dikelola, api
itu bisa jadi energi untuk perubahan positif.
Jadi, lain kali kalau
ada konflik di kantor, jangan buru-buru menghindar. Hadapi dengan kepala
dingin, gunakan seni negosiasi, dan ubah konflik jadi kesempatan untuk
berkembang.*

Komentar
Posting Komentar