Self-Healing: Tren Sesaat atau Kebutuhan Nyata?

 


Oleh: M. Muhar Omtatok

Sore itu, di sebuah kafe estetik di Medan, sekelompok anak muda duduk melingkari meja panjang. Masing-masing sibuk dengan gawai, seolah melakukan pemulihan diri dengan cara sendiri-sendiri. Ada yang larut dalam permainan di ponsel, ada yang terus-menerus menggulir layar ponsel.  Bahkan ada pula yang "update status" beragam: yang berdoa pada Tuhan lewat media sosial, ada yang menuliskan kalimat motivasi seakan untuk orang lain namun sebenarnya ditujukan pada diri sendiri, hingga ada yang menunjukkan rasa syukur yang samar-samar berbaur dengan flexing. Semua itu mereka sebut sebagai bentuk self-healing, meski terlihat sederhana, kadang pula kontradiktif.

Tak jauh dari sana, seorang influencer dengan ribuan penonton live mengingatkan: “Kalau lagi overthinking, tarik napas dalam-dalam, dengarkan tubuhmu, jangan lupa self-healing ya!”

Fenomena ini bukan lagi sekadar gaya hidup kota besar. Istilah self-healing kini akrab di telinga siapa saja, dari remaja, ibu rumah tangga, hingga pekerja kantoran. Tapi pertanyaannya, benarkah ia sebuah kebutuhan, atau hanya tren yang digerakkan media sosial?

Lelah Kolektif dan Akar Masalah

Kita hidup di era serba cepat. Informasi terus berdatangan tanpa henti, target kerja semakin tinggi, dan relasi sosial makin rapuh. Tiga arena utama anak muda, yaitu belajar, bekerja, dan membangun hubungan; sering saling bertabrakan, menciptakan tekanan berlapis.

Di tengah standar sosial yang kian meninggi, banyak orang merasa rapuh dan mudah goyah. Mereka mencari celah untuk merawat luka batin, sekadar bersembunyi di balik kutipan-kutipan bijak yang memenuhi linimasa.

Tak mengherankan bila istilah self-healing menjelma semacam mantra. Ia menghadirkan kesan jalan keluar dari kelelahan yang tak bisa dihapus hanya dengan tidur panjang atau liburan singkat.

Dari Konsep Psikologi ke Budaya Pop

Dalam ranah psikologi, self-healing berarti usaha sadar untuk memulihkan kesehatan mental, emosional, dan spiritual. Caranya beragam: terapi, zikir atau meditasi atau doa, journaling, berolahraga, hingga berbincang dengan orang yang dipercaya.

Namun saat masuk ke arus budaya populer, maknanya bergeser. Ia melekat pada estetika media sosial: solo traveling ke Bali, yoga di tepi pantai, foto dengan kopi susu ditemani buku afirmasi. Hashtag selfhealing bahkan sempat mencapai jutaan unggahan di Instagram dan TikTok.

Self-healing lalu menjadi semacam label: tanda bahwa seseorang dianggap peduli kesehatan mental. Padahal esensinya adalah perjalanan panjang, sering kali sunyi, penuh perjuangan, dan tidak selalu tampak indah layaknya ada di layar gawai.

 


Antara Tren dan Kenyataan

Bagi Sarah, mahasiswa 22 tahun, self-healing benar-benar membantu. Ia mulai menulis jurnal setelah putus cinta. “Awalnya cuma ikut-ikutan tren di TikTok. Tapi lama-lama, menulis bikin saya lebih paham perasaan sendiri. Rasanya plong,” tuturnya.

Berbeda dengan Sarah, Bima, pegawai startup, menilai tren ini terkadang berlebihan. “Teman kantor saya sampai cuti seminggu buat ‘healing ke Bali’. Kerjaan jadi terbengkalai. Kalau saya sih cukup lari pagi di stadion, gratis tapi manjur,” katanya sambil tertawa.

Dua kisah ini memperlihatkan spektrum luas: self-healing bisa jadi kebutuhan pribadi, tapi juga berpotensi jadi budaya konsumtif baru.

 

Industri Healing: Bisnis yang Menggiurkan

Fenomena ini membuka lahan bisnis besar. Data menunjukkan pasar kesehatan dan kebugaran di Indonesia mencapai 49,2 miliar dolar pada 2024 dan diprediksi naik menjadi 71,1 miliar dolar pada 2033. Termasuk di dalamnya perawatan tubuh, suplemen, layanan medis preventif, dan lain-lain.

Kini bermunculan berbagai paket “jalan menuju pulih”: wisata alam bertema healing, kelas meditasi online, hingga workshop journaling. Semua dikemas rapi dengan label self-care, berharga hingga jutaan rupiah.

Bagi sebagian orang, ini investasi kesehatan mental. Namun bagi yang lain, justru bentuk komersialisasi. “Kalau healing harus ke luar negeri, gimana nasib yang gajinya UMR?” canda Zulfan, seorang pegawai.

Pada akhirnya, healing jadi paradoks: semakin mahal semakin dianggap sah, padahal sejatinya bisa sederhana.

 

Sisi Gelap Self-Healing

Popularitasnya juga membawa konsekuensi. Pertama, banyak orang menjadikan self-healing sebagai pengganti terapi profesional. Padahal ada kondisi yang memerlukan psikoterapi atau obat medis, bukan sekadar journaling atau meditasi.

Kedua, muncul fenomena toxic positivity, yaitu dorongan untuk selalu positif, yang justru menolak ruang bagi emosi negatif. Akibatnya, duka, marah, atau rasa sakit sering kali tidak mendapat tempat.

Bahkan peran pemuka agama pun menjadi ambivalen. Jika ajaran agama hanya dipakai sebagai penyemangat instan, ia bisa jadi jebakan. Tapi jika dipadukan dengan validasi penderitaan, ia justru bisa jadi jalan pemulihan yang lebih dalam.

 

Membumikan Self-Healing

Lalu bagaimana agar self-healing tidak berhenti sebagai slogan? Para ahli menekankan pentingnya mengakar pada hal-hal sederhana dan realistis, bukan sekadar mengikuti arus konten motivasi atau paket healing mahal.

Langkah kecil bisa sangat berarti: tidur cukup agar pikiran tidak terus tertekan, berbagi cerita dengan orang terpercaya, rutin bergerak meski hanya 30 menit olahraga ringan, dan berani mencari bantuan profesional bila beban terasa berat.

Dengan begitu, self-healing bukan lagi sekadar estetika konsumtif, melainkan proses nyata menjaga kewarasan dan merawat diri.

 

Pulang ke Diri

Mungkin jawabannya bukan memilih apakah self-healing itu tren atau kebutuhan. Ia adalah keduanya. Lahir dari kebutuhan manusia modern untuk bertahan, lalu menjelma tren populer yang estetik dan viral.

Namun intinya jelas: healing sejati bukan soal perjalanan jauh, bukan lilin aromaterapi mahal, apalagi unggahan Instagram. Healing adalah keberanian untuk pulang kepada diri sendiri.*

Komentar