Physical Activity Play: Mengapa Anak Perlu Berlari, Memanjat, dan “Gelut-Gelutan”?


 

Di era digital saat ini, tidak jarang anak menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar gadget. Duduk diam sambil menatap layar sering kali membuat anak lupa bergerak, padahal masa kanak-kanak adalah fase penting untuk mengeksplorasi dunia melalui tubuhnya.

Salah satu bentuk aktivitas yang sangat penting bagi perkembangan anak adalah physical activity play atau bermain aktivitas fisik. Dalam psikologi perkembangan, bentuk bermain ini merujuk pada aktivitas menyenangkan yang melibatkan gerakan tubuh secara aktif, seperti berlari, melompat, memanjat, menari, bermain bola, hingga permainan kejar-kejaran.

Meski tampak sederhana, permainan fisik memiliki peran besar dalam perkembangan anak secara fisik, kognitif, sosial, dan emosional.


Apa Itu Physical Activity Play?

Physical activity play adalah bentuk permainan yang melibatkan aktivitas motorik besar (gross motor activity). Contohnya termasuk:

  • Berlari

  • Melompat

  • Memanjat

  • Menari

  • Bermain bola

  • Lompat tali

  • Permainan kejar-kejaran

Menurut penelitian Pellegrini dan Smith (1998), permainan jenis ini biasanya mulai terlihat ketika anak memasuki usia sekitar 2 tahun dan menjadi sekitar 20% dari seluruh aktivitas bermain pada usia 4–5 tahun.

Selain aktivitas olahraga sederhana, terdapat pula bentuk permainan fisik yang disebut rough-and-tumble play, yang secara sederhana dapat digambarkan sebagai “gelut-gelutan” atau permainan berantam pura-pura.

Permainan ini berbeda dari agresi nyata karena ditandai oleh:

  • ekspresi kegembiraan,

  • adanya kontrol diri,

  • serta kesenangan bersama antar peserta.

Penelitian menunjukkan bahwa permainan ini justru berperan penting dalam perkembangan keterampilan sosial dan emosional anak, bahkan membantu memperkuat ikatan emosional (bonding) antara anak dengan teman sebaya maupun orang tua.


Manfaat Physical Activity Play bagi Perkembangan Anak

Permainan fisik memberikan manfaat besar dari berbagai aspek perkembangan.

1. Manfaat Fisik

Dari sisi kesehatan tubuh, anak yang aktif bergerak cenderung:

  • memiliki otot dan tulang yang lebih kuat

  • memiliki postur tubuh lebih baik

  • meningkatkan fungsi jantung dan paru-paru

  • meningkatkan keseimbangan dan koordinasi tubuh

  • menurunkan risiko obesitas dan penyakit jantung

Aktivitas fisik juga membantu jantung memompa darah ke otak lebih efektif, sehingga mendukung fungsi otak secara keseluruhan.


2. Manfaat Kognitif

Aktivitas fisik juga berpengaruh terhadap fungsi otak anak.

Sebuah penelitian menunjukkan perbedaan aktivitas otak pada dua anak yang melakukan aktivitas berbeda selama 20 menit:

  • anak yang duduk diam menunjukkan area otak yang relatif kurang aktif,

  • sementara anak yang berjalan atau bergerak menunjukkan lebih banyak area otak yang aktif.

Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas fisik dapat meningkatkan perhatian, konsentrasi, dan memori, sehingga membantu anak mengikuti proses belajar di sekolah dengan lebih baik.


3. Manfaat Sosial

Permainan fisik sering dilakukan bersama teman sebaya. Dalam proses ini anak belajar:

  • berkomunikasi

  • berbagi

  • bergiliran

  • bekerja sama

  • memahami perspektif orang lain

Melalui permainan sederhana seperti kejar-kejaran atau bermain bola, anak sebenarnya sedang belajar keterampilan sosial yang sangat penting dalam kehidupan.


4. Manfaat Emosional

Bermain aktif juga memengaruhi kesehatan mental anak.

Ketika anak bergerak aktif, tubuh menghasilkan hormon endorfin, yaitu hormon yang berkaitan dengan perasaan bahagia. Dampaknya:

  • suasana hati menjadi lebih baik

  • anak lebih rileks

  • tingkat stres berkurang

  • rasa percaya diri meningkat

Karena itu, anak yang sering bermain fisik cenderung lebih stabil secara emosional dan lebih tahan terhadap tekanan psikologis.


Tahapan Physical Activity Play

Menurut Pellegrini dan Smith (1998), permainan aktivitas fisik berkembang melalui tiga bentuk utama.

1. Rhythmic Stereotypies

Ini merupakan gerakan motorik kasar yang berulang dan tampaknya tidak memiliki tujuan tertentu, seperti:

  • mengayun tubuh

  • menendang kaki berulang

  • menggerakkan tangan secara ritmis

Bentuk ini biasanya muncul pada tahun pertama kehidupan bayi.


2. Exercise Play

Exercise play merupakan permainan yang melibatkan gerakan tubuh kuat dan aktif, seperti:

  • berlari

  • melompat

  • memanjat

  • menendang bola

Jenis permainan ini biasanya muncul sekitar usia 2 tahun dan mencapai puncaknya pada usia 5–6 tahun.


3. Rough-and-Tumble Play

Permainan ini melibatkan kontak fisik antar anak, seperti:

  • gulat ringan

  • kejar-kejaran

  • pura-pura berkelahi

Meski terlihat agresif, permainan ini sebenarnya bersifat sosial dan penuh kegembiraan. Rough-and-tumble play juga ditemukan pada banyak spesies hewan, yang menunjukkan bahwa bentuk permainan ini memiliki fungsi perkembangan yang penting.


Kategori Permainan Anak Menurut Mildred Parten

Peneliti Mildred Parten mengelompokkan permainan anak berdasarkan perilaku sosial menjadi enam kategori:

  1. Unoccupied Play
    Anak hanya mengamati lingkungan tanpa terlibat dalam permainan tertentu.

  2. Solitary Play
    Anak bermain sendiri meskipun berada di dekat anak lain.

  3. Onlooker Play
    Anak mengamati permainan orang lain dan mungkin berbicara, tetapi tidak ikut bermain.

  4. Parallel Play
    Anak bermain berdampingan dengan alat permainan yang sama, tetapi tanpa interaksi langsung.

  5. Associative Play
    Anak bermain bersama dan berbagi alat permainan, namun belum ada aturan yang jelas.

  6. Cooperative Play
    Anak bermain dalam kelompok dengan tujuan dan pembagian peran yang jelas.


Perbedaan Permainan Fisik Anak Laki-Laki dan Perempuan

Penelitian menunjukkan bahwa anak laki-laki cenderung lebih sering terlibat dalam permainan fisik dibandingkan anak perempuan (Pellegrini & Smith, 1998).

Meta-analisis oleh Eaton dan Enns (1986) juga menunjukkan bahwa tingkat aktivitas fisik anak laki-laki lebih tinggi sejak bayi hingga masa remaja.

Menurut Maccoby (1998), terdapat tiga fenomena utama dalam perbedaan permainan berdasarkan jenis kelamin:

  1. Segregasi
    Anak cenderung bermain dengan teman yang memiliki jenis kelamin sama.

  2. Diferensiasi
    Gaya interaksi kelompok laki-laki dan perempuan berbeda.

  3. Asimetri
    Kelompok laki-laki biasanya lebih kohesif dan eksklusif.

Penelitian oleh Simon Baron-Cohen dari Universitas Cambridge menjelaskan bahwa perbedaan ini juga dipengaruhi oleh perkembangan otak, di mana:

  • anak perempuan cenderung lebih empatik,

  • anak laki-laki lebih tertarik pada aktivitas fisik.

Namun, perbedaan ini bukan aturan mutlak, karena setiap anak memiliki karakter yang unik.


Fungsi Psikologis Bermain Aktivitas Fisik

Dalam psikologi perkembangan, bermain tidak hanya sekadar hiburan. Bermain memiliki fungsi penting sebagai alat komunikasi dan pembelajaran bagi anak.

Melalui bermain, anak belajar:

  • memahami lingkungan fisik

  • mengenal hubungan sosial

  • mengekspresikan emosi

  • mengembangkan kreativitas dan imajinasi

Bermain juga memiliki fungsi terapeutik, karena membantu anak:

  • mengekspresikan perasaan

  • mengatasi konflik internal

  • mengurangi kecemasan

  • memahami pengalaman hidup

Karena itu, bermain bukanlah aktivitas “main-main”, melainkan bagian penting dari proses belajar anak.


Physical Activity Play untuk Orang Dewasa

Menariknya, konsep bermain fisik tidak hanya relevan bagi anak-anak.

Dalam psikologi, orang dewasa juga masih memiliki dua karakter yang sering muncul:

  • childish (kekanak-kanakan secara emosional)

  • childlike (memiliki semangat anak-anak yang positif)

Sifat childish dapat berdampak negatif karena berkaitan dengan ketidakmatangan emosional. Namun sifat childlike justru bermanfaat karena membuat seseorang:

  • lebih spontan

  • lebih antusias

  • berani mencoba hal baru

  • lebih kreatif

  • tidak mudah menyerah

Karena itu, aktivitas fisik yang menyenangkan—seperti olahraga rekreasi, permainan kelompok, atau kegiatan outdoor—dapat membantu orang dewasa mempertahankan semangat belajar dan keberanian menghadapi tantangan.


Penutup

Bermain aktivitas fisik merupakan bagian penting dalam perkembangan manusia, terutama pada masa kanak-kanak. Melalui aktivitas sederhana seperti berlari, melompat, atau bermain kejar-kejaran, anak tidak hanya melatih tubuhnya, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir, bersosialisasi, serta mengelola emosi.

Di tengah perkembangan teknologi yang membuat anak semakin sering duduk diam di depan layar, penting bagi orang tua dan pendidik untuk memberikan ruang bagi anak untuk bergerak, bermain, dan mengeksplorasi dunia secara fisik.

Karena pada akhirnya, melalui permainanlah anak belajar tentang dirinya, orang lain, dan dunia di sekitarnya.* (M. Muhar)

Komentar