Rahasia Psikologis Paling Aneh yang Ternyata Benar

 

oleh: M Muhar Omtatok

Rahasia psikologis mengingatkan kita bahwa otak manusia tidak selalu logis. Ia penuh trik, bias, dan ilusi; kadang aneh, kadang menjengkelkan, tapi justru itulah yang membuat manusia menarik. Kita adalah makhluk rasional yang sering kali tidak rasional. Ini contohnya:

 

1. Otak Suka Berbohong demi Mengisi Kekosongan

Konfabulasi

Fenomena di mana otak "mengarang cerita" untuk mengisi kekosongan ingatan tentang suatu peristiwa disebut konfabulasi. Konfabulasi adalah gangguan memori di mana seseorang membuat informasi tanpa disengaja untuk menutupi celah dalam ingatannya, dan hal ini dilakukan tanpa kesadaran untuk berbohong, karena otak berusaha menyajikan narasi yang utuh. 

Konfabulasi adalah pembentukan memori palsu yang berasal dari reinterpretasi informasi yang masuk, seperti arahan, pernyataan, atau bahkan tebakan yang masuk akal. Pelaku konfabulasi tidak menyadari bahwa ia telah membuat informasi yang salah atau terdistorsi. Mereka meyakini kebenaran cerita yang mereka sampaikan, meskipun cerita tersebut tidak sesuai dengan kenyataan. :

Otak memiliki dorongan untuk menciptakan narasi yang kohesif, sehingga ketika ada bagian memori yang hilang, otak akan mengisinya dengan informasi yang paling masuk akal untuk menjaga kesinambungan cerita. Konfabulasi dapat terjadi pada orang-orang dengan berbagai kondisi, termasuk masalah kesehatan yang memengaruhi memori, seperti kondisi yang dikenal sebagai brain fog

Brain fog atau kabut otak, bukanlah penyakit melainkan kumpulan gejala yang memengaruhi kemampuan berpikir, berkonsentrasi, dan mengingat, seperti kelupaan, pikiran kabur, dan kelelahan mental. Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk stres, kurang tidur, diet tidak sehat, perubahan hormon (kehamilan dan menopause), serta penyakit tertentu seperti autoimun. Mengatasi brain fog dapat dilakukan dengan berolahraga teratur, mengonsumsi makanan sehat, mendapatkan tidur yang cukup, mengelola stres, dan menghindari alkohol serta obat-obatan terlarang. 

Singkatnya, Konfabulasi adalah cara otak kita menjaga narasi peristiwa agar terasa utuh meskipun ada kekurangan informasi yang sebenarnya, dan ini bukanlah kebohongan yang disengaja, tetapi upaya otak untuk mengisi kekosongan. 

Mythomania

Mythomania, juga dikenal sebagai Pseudologia Fantastica atau kebohongan patologis, adalah gangguan mental di mana seseorang berbohong secara kompulsif dan persisten tanpa motif keuntungan yang jelas. Penderitanya sering mengarang cerita fantastis yang rumit dan detail, terkadang mencampurkan kebohongan dengan fakta-fakta nyata. Kondisi ini bisa berdampak negatif pada kehidupan sosial dan memerlukan penanganan psikoterapi. 

2. Emosi Itu Menular

Mirror Neuron

Ternyata kita bisa ikut sedih, marah, atau senang hanya karena berada di dekat orang dengan emosi kuat. Semua ini berkat mirror neurons di otak yang otomatis meniru ekspresi dan perasaan orang lain.

Mirror neuron atau neuron cermin adalah jenis sel saraf yang aktif baik saat seseorang melakukan tindakan tertentu maupun saat mengamati orang lain melakukan tindakan yang sama. Penemuan neuron ini, pertama kali pada otak kera, lalu ditemukan juga pada manusia, memberikan dasar bagi pemahaman tindakan orang lain, empati, dan pembelajaran melalui observasi (imitasi). 

Mirror neuron membantu kita memahami apa yang sedang dilakukan orang lain dan niat di balik tindakan tersebut.  Mirror neuron System (MNS) mendasari kemampuan kita untuk belajar dengan meniru tindakan orang lain. 

Mirror neuron menjadi fondasi fisiologis untuk empati, yaitu kemampuan untuk merasakan dan berbagi emosi orang lain, seperti tertawa saat melihat orang lain tertawa atau merasa sedih saat melihat orang lain sedih. Sebetulnya Mirror neuron sangat penting untuk interaksi sosial manusia, memungkinkan kita untuk terhubung, memahami, dan berinteraksi secara efektif dengan orang lain. 

Ketika Anda melihat seseorang tersenyum, neuron di otak Anda yang bertanggung jawab untuk menciptakan senyum akan aktif, seolah-olah Anda sendiri yang tersenyum. Proses ini, yang disebut "pantulan" atau "resonansi", menciptakan pengalaman internal yang mirip dengan apa yang dialami oleh orang lain, sehingga kita bisa memahaminya secara mendalam. 

3. Pegang Saja Sesuatu, Rasa Percaya Diri Meningkat

Salah Satu Terapan Embodied Cognition

Aneh tapi nyata, hanya dengan memegang sesuatu di tangan, orang merasa lebih siap bicara atau tampil di depan umum. Ini contoh embodied cognition, ketika tubuh memberi sinyal pada pikiran, di mana pengalaman sensorik dan fisik dengan memegang benda di tangan misalnya,  memengaruhi proses kognitif yaitu merasa lebih siap dan emosional dengan meningkatkan kepercayaan diri untuk tampil di depan umum. Tubuh dan pikiran saling terkait dan memengaruhi satu sama lain, sehingga tindakan fisik dapat menciptakan perubahan mental. 

Embodied cognition atau kognisi tertubuh adalah teori yang menyatakan bahwa kognisi tidak terbatas pada otak, tetapi melibatkan seluruh tubuh dan interaksinya dengan lingkungan. Dimana persepsi fisik memegang sesuatu, terutama objek yang terasa solid atau memberikan rasa aman, misalnya, stress ball atau pena, dapat memberikan "sinyal" positif ke otak bahwa Anda memiliki sesuatu yang dapat diandalkan.

Disini bekerja juga efek kesiapan dan kepercayaan diri. Sensasi fisik ini dapat mengurangi kecemasan dan meningkatkan rasa percaya diri sebelum tampil, yang pada gilirannya membuat Anda merasa lebih siap secara mental. Objek yang dipegang dapat berfungsi sebagai semacam "jangkar" atau "penopang," memberikan rasa kontrol dan stabilitas yang dapat disalurkan ke dalam kepercayaan diri saat berbicara di depan umum.

Sebenarnya banyak contoh lain dari embodied cognition yang bisa diamati, seperti  melipat tangan, karena terkadang melipat tangan bisa membuat seseorang merasa lebih berkuasa, terlepas dari niat mereka. Ada juga postur tubuh yang "terbuka" dan tegap bisa membuat seseorang merasa lebih percaya diri dibandingkan dengan posisi membungkuk. Jadi tindakan sederhana memegang objek di tangan misalnya,  dapat menjadi mekanisme kognisi tertubuh yang membantu seseorang merasa lebih siap dan percaya diri dalam situasi yang menuntut.

4. Bahagia Justru Datang Saat Tidak Dicari

Paradox of Hedonism

Semakin keras mengejar kebahagiaan, semakin sulit diraih. Gagasan filosofis menyebutnya paradox of hedonism. Justru ketika kita sibuk melakukan hal bermakna misalnya membaca, menolong orang, berkreasi, perasaan bahagia muncul begitu saja.

Paradoks hedonisme ini adalah gagasan filosofis yang menyatakan bahwa mengejar kesenangan sebagai tujuan utama justru dapat menghambat tercapainya kebahagiaan atau kesenangan yang sebenarnya. Konsep ini, yang pertama kali diungkapkan oleh Henry Sidgwick, menunjukkan bahwa semakin seseorang secara sadar berupaya mendapatkan kesenangan, semakin kecil kemungkinan mereka untuk merasakannya. 

Dalam pandangan beberapa agama, tujuan utama hidup bukanlah “mengejar bahagia” atau “memuaskan diri”, melainkan ibadah kepada Tuhan. Artinya, ketika manusia menjadikan kebahagiaan sebagai tujuan akhir, ia mudah kecewa karena dunia fana. Tapi ketika tujuan diarahkan ke ibadah dan ridha Tuhan, kebahagiaan hadir sebagai bonus, bukan target.

Jadi jika paradox of hedonism memandang bahwa bahagia tidak tercapai bila dicari langsung, tapi hadir ketika kita mengejar makna. Agamis memandang bahagia bukan tujuan akhir,  melainkan hasil samping dari orientasi hidup yang benar.

5. Rugi Lebih Menyakitkan daripada Untung

Loss aversion

Kehilangan Rp100.000 terasa lebih menyakitkan dibanding senangnya mendapat jumlah yang sama. Inilah loss aversion, sebuah bias psikologis yang memengaruhi hampir semua keputusan finansial kita.

Loss aversion adalah kecenderungan psikologis di mana orang merasakan sakit karena kehilangan sesuatu secara emosional jauh lebih kuat daripada kegembiraan yang mereka rasakan dari memperoleh keuntungan dengan nilai yang sama. Konsep ini berasal dari prospect theory dan menjelaskan bahwa orang lebih memilih untuk menghindari kerugian daripada mengejar keuntungan yang lebih besar, sering kali membuat mereka mengambil keputusan yang tidak rasional. 

Dalam Psikologi kepribadian dan Manajemen keputusan, ada dikenal risk taker dan risk averse, hal ini termasuk risk averse. Risk averse itu kecenderungan untuk menghindari risiko dan lebih memilih stabilitas serta keamanan misalnya untuk modal mereka, daripada mengejar potensi keuntungan yang lebih besar namun tidak pasti. 

6. Suara Rekaman Sendiri Bikin Tidak Nyaman

Kenapa suara kita di rekaman terdengar “aneh”? Karena biasanya kita mendengar suara sendiri lewat getaran tulang kepala. Saat direkam, suara terdengar murni dari luar, itulah yang membuatnya terasa asing.

Saat berbicara, suara dirambat ke telinga melalui gelombang udara dan juga melalui getaran tulang tengkorak. Konduksi tulang ini membuat suara terdengar lebih dalam dan kaya karena memperkuat frekuensi rendah.  Namun rekaman yang ditangkap mikrofon hanya menangkap suara yang merambat melalui udara. Tidak ada getaran tulang yang ditangkap oleh mikrofon. 

Dari pendekatan psikologis ada ekspektasi dan persepsi diri. Ekspektasi muncul dari terbiasa dengan suara yang lebih dalam dan kaya berkat konduksi tulang, sehingga ketika mendengar rekaman hanya konduksi udara, suara itu terasa lebih tipis, tinggi, atau asing bagi kita.

Dari persepsi diri, kita sering kali punya ideal self atau citra diri yang ingin dimiliki, termasuk suara yang merdu. Ketika suara di rekaman berbeda dari bayangan itu, kita merasa tidak suka atau aneh.

7. Lapar karena Jam, Bukan karena Perut

Conditioned Hunger

Tubuh bisa dilatih merasakan lapar di jam tertentu, meski belum tentu benar-benar butuh makan. Fenomena ini disebut conditioned hunger. Tidak heran banyak orang otomatis mencari makanan begitu jarum jam menunjuk angka 12.

"Lapar karena jam, bukan karena perut" menjadi faktor kebiasaan atau psikologis, bukan karena tubuh benar-benar membutuhkan makanan. Penyebabnya bisa karena kurang tidur, stres, kebiasaan makan yang tidak sehat seperti konsumsi karbohidrat olahan, kurang serat dan lemak baik, serta dehidrasi. Untuk mengatasinya, pastikan cukup minum air, istirahat cukup, makan makanan bergizi, dan kelola stres dengan baik serta pengendalian nafsu.

8. Pikiran Bisa Bikin Tubuh Sakit

Nocebo Effect

Stres berlebihan bisa memicu gejala fisik misalnya sakit kepala, mual, bahkan ruam kulit. Lebih ekstrem lagi, ada yang disebut nocebo effect, orang merasa sakit hanya karena percaya ada yang salah, padahal tubuhnya sehat-sehat saja.

Pikiran dapat menyebabkan tubuh sakit melalui  nocebo effect sebagai efek negatif yang timbul karena keyakinan dan ekspektasi buruk seseorang, misalnya terhadap pengobatan atau situasi kesehatan. Ini terjadi karena pikiran negatif, sugesti, atau ketakutan dapat memicu gejala fisik yang sebenarnya, seperti mual, sakit kepala, nyeri, atau memperburuk kondisi yang ada, meskipun pengobatan yang diberikan tidak berbahaya. 

Hal ini kebalikan dengan placebo effect. Contoh sederhana placebo effect, Seseorang yang mengalami sakit ringan,  sembuh setelah disuntik dokter, karena ia meyakini bahwa suntik dokter itu sebagai penyembuh, padahal dokter tersebut cuma memasukkan vitamin*


Komentar

Posting Komentar