Rahasia psikologis mengingatkan
kita bahwa otak manusia tidak selalu logis. Ia penuh trik, bias, dan ilusi; kadang
aneh, kadang menjengkelkan, tapi justru itulah yang membuat manusia menarik. Kita
adalah makhluk rasional yang sering kali tidak rasional. Ini contohnya:
1.
Otak Suka Berbohong demi Mengisi Kekosongan
Konfabulasi
Fenomena di mana otak
"mengarang cerita" untuk mengisi kekosongan ingatan tentang suatu
peristiwa disebut konfabulasi. Konfabulasi adalah gangguan memori di mana
seseorang membuat informasi tanpa disengaja untuk menutupi celah dalam
ingatannya, dan hal ini dilakukan tanpa kesadaran untuk berbohong, karena otak
berusaha menyajikan narasi yang utuh.
Konfabulasi adalah
pembentukan memori palsu yang berasal dari reinterpretasi informasi yang masuk,
seperti arahan, pernyataan, atau bahkan tebakan yang masuk akal. Pelaku
konfabulasi tidak menyadari bahwa ia telah membuat informasi yang salah atau
terdistorsi. Mereka meyakini kebenaran cerita yang mereka sampaikan,
meskipun cerita tersebut tidak sesuai dengan kenyataan. :
Otak memiliki dorongan
untuk menciptakan narasi yang kohesif, sehingga ketika ada bagian memori yang
hilang, otak akan mengisinya dengan informasi yang paling masuk akal untuk
menjaga kesinambungan cerita. Konfabulasi dapat terjadi pada orang-orang
dengan berbagai kondisi, termasuk masalah kesehatan yang memengaruhi memori,
seperti kondisi yang dikenal sebagai brain
fog.
Brain
fog
atau kabut otak, bukanlah penyakit melainkan kumpulan gejala yang
memengaruhi kemampuan berpikir, berkonsentrasi, dan mengingat, seperti
kelupaan, pikiran kabur, dan kelelahan mental. Kondisi ini dapat
disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk stres, kurang tidur, diet tidak
sehat, perubahan hormon (kehamilan dan menopause), serta penyakit tertentu
seperti autoimun. Mengatasi brain
fog dapat dilakukan dengan berolahraga teratur, mengonsumsi makanan sehat,
mendapatkan tidur yang cukup, mengelola stres, dan menghindari alkohol serta
obat-obatan terlarang.
Singkatnya, Konfabulasi
adalah cara otak kita menjaga narasi peristiwa agar terasa utuh meskipun ada
kekurangan informasi yang sebenarnya, dan ini bukanlah kebohongan yang
disengaja, tetapi upaya otak untuk mengisi kekosongan.
Mythomania
Mythomania, juga
dikenal sebagai Pseudologia Fantastica atau kebohongan patologis,
adalah gangguan mental di mana seseorang berbohong secara kompulsif dan
persisten tanpa motif keuntungan yang jelas. Penderitanya sering mengarang
cerita fantastis yang rumit dan detail, terkadang mencampurkan kebohongan
dengan fakta-fakta nyata. Kondisi ini bisa berdampak negatif pada
kehidupan sosial dan memerlukan penanganan psikoterapi.
2.
Emosi Itu Menular
Mirror
Neuron
Ternyata kita bisa ikut
sedih, marah, atau senang hanya karena berada di dekat orang dengan emosi kuat.
Semua ini berkat mirror neurons di
otak yang otomatis meniru ekspresi dan perasaan orang lain.
Mirror
neuron atau neuron cermin adalah jenis sel saraf yang
aktif baik saat seseorang melakukan tindakan tertentu maupun saat mengamati
orang lain melakukan tindakan yang sama. Penemuan neuron ini, pertama kali
pada otak kera, lalu ditemukan juga pada manusia, memberikan dasar bagi
pemahaman tindakan orang lain, empati, dan pembelajaran melalui observasi
(imitasi).
Mirror
neuron membantu kita memahami apa yang sedang dilakukan
orang lain dan niat di balik tindakan tersebut. Mirror neuron System (MNS)
mendasari kemampuan kita untuk belajar dengan meniru tindakan orang lain.
Mirror
neuron menjadi fondasi fisiologis untuk empati, yaitu
kemampuan untuk merasakan dan berbagi emosi orang lain, seperti tertawa saat
melihat orang lain tertawa atau merasa sedih saat melihat orang lain sedih. Sebetulnya
Mirror neuron sangat penting untuk
interaksi sosial manusia, memungkinkan kita untuk terhubung, memahami, dan
berinteraksi secara efektif dengan orang lain.
Ketika Anda melihat
seseorang tersenyum, neuron di otak Anda yang bertanggung jawab untuk
menciptakan senyum akan aktif, seolah-olah Anda sendiri yang
tersenyum. Proses ini, yang disebut "pantulan" atau
"resonansi", menciptakan pengalaman internal yang mirip dengan apa
yang dialami oleh orang lain, sehingga kita bisa memahaminya secara mendalam.
3.
Pegang Saja Sesuatu, Rasa Percaya Diri Meningkat
Salah
Satu Terapan Embodied Cognition
Aneh tapi nyata, hanya
dengan memegang sesuatu di tangan, orang merasa lebih siap bicara atau tampil
di depan umum. Ini contoh embodied
cognition, ketika tubuh memberi sinyal pada pikiran, di mana pengalaman
sensorik dan fisik dengan memegang benda di tangan misalnya, memengaruhi proses kognitif yaitu merasa
lebih siap dan emosional dengan meningkatkan kepercayaan diri untuk tampil di
depan umum. Tubuh dan pikiran saling terkait dan memengaruhi satu sama
lain, sehingga tindakan fisik dapat menciptakan perubahan mental.
Embodied
cognition atau kognisi tertubuh adalah teori yang menyatakan
bahwa kognisi tidak terbatas pada otak, tetapi melibatkan seluruh tubuh dan
interaksinya dengan lingkungan. Dimana persepsi fisik memegang sesuatu,
terutama objek yang terasa solid atau memberikan rasa aman, misalnya, stress
ball atau pena, dapat memberikan "sinyal" positif ke otak bahwa Anda
memiliki sesuatu yang dapat diandalkan.
Disini bekerja juga
efek kesiapan dan kepercayaan diri. Sensasi fisik ini dapat mengurangi
kecemasan dan meningkatkan rasa percaya diri sebelum tampil, yang pada
gilirannya membuat Anda merasa lebih siap secara mental. Objek yang dipegang
dapat berfungsi sebagai semacam "jangkar" atau "penopang,"
memberikan rasa kontrol dan stabilitas yang dapat disalurkan ke dalam
kepercayaan diri saat berbicara di depan umum.
Sebenarnya banyak contoh
lain dari embodied cognition yang bisa diamati, seperti melipat tangan,
karena terkadang melipat tangan bisa membuat seseorang merasa lebih berkuasa,
terlepas dari niat mereka. Ada juga postur tubuh yang "terbuka" dan
tegap bisa membuat seseorang merasa lebih percaya diri dibandingkan dengan
posisi membungkuk. Jadi tindakan sederhana memegang objek di tangan misalnya, dapat menjadi mekanisme kognisi tertubuh yang
membantu seseorang merasa lebih siap dan percaya diri dalam situasi yang
menuntut.
4.
Bahagia Justru Datang Saat Tidak Dicari
Paradox
of Hedonism
Semakin keras mengejar
kebahagiaan, semakin sulit diraih. Gagasan filosofis menyebutnya paradox of hedonism. Justru ketika kita
sibuk melakukan hal bermakna misalnya membaca, menolong orang, berkreasi, perasaan
bahagia muncul begitu saja.
Paradoks hedonisme ini adalah gagasan
filosofis yang menyatakan bahwa mengejar kesenangan sebagai tujuan utama justru
dapat menghambat tercapainya kebahagiaan atau kesenangan yang sebenarnya. Konsep
ini, yang pertama kali diungkapkan oleh Henry Sidgwick, menunjukkan bahwa
semakin seseorang secara sadar berupaya mendapatkan kesenangan, semakin kecil
kemungkinan mereka untuk merasakannya.
Dalam pandangan
beberapa agama, tujuan utama hidup bukanlah “mengejar bahagia” atau “memuaskan
diri”, melainkan ibadah kepada Tuhan. Artinya, ketika manusia menjadikan
kebahagiaan sebagai tujuan akhir, ia mudah kecewa karena dunia fana. Tapi
ketika tujuan diarahkan ke ibadah dan ridha Tuhan, kebahagiaan hadir sebagai
bonus, bukan target.
Jadi jika paradox of hedonism memandang bahwa bahagia
tidak tercapai bila dicari langsung, tapi hadir ketika kita mengejar makna. Agamis
memandang bahagia bukan tujuan akhir, melainkan
hasil samping dari orientasi hidup yang benar.
5.
Rugi Lebih Menyakitkan daripada Untung
Loss
aversion
Kehilangan Rp100.000
terasa lebih menyakitkan dibanding senangnya mendapat jumlah yang sama. Inilah loss aversion, sebuah bias psikologis
yang memengaruhi hampir semua keputusan finansial kita.
Loss
aversion adalah kecenderungan psikologis di mana orang
merasakan sakit karena kehilangan sesuatu secara emosional jauh lebih kuat
daripada kegembiraan yang mereka rasakan dari memperoleh keuntungan dengan
nilai yang sama. Konsep ini berasal dari prospect theory dan menjelaskan bahwa orang lebih memilih untuk
menghindari kerugian daripada mengejar keuntungan yang lebih besar, sering kali
membuat mereka mengambil keputusan yang tidak rasional.
Dalam Psikologi
kepribadian dan Manajemen keputusan, ada dikenal risk taker dan risk averse,
hal ini termasuk risk averse. Risk averse itu
kecenderungan untuk menghindari risiko dan lebih memilih stabilitas serta
keamanan misalnya untuk modal mereka, daripada mengejar potensi keuntungan yang
lebih besar namun tidak pasti.
6.
Suara Rekaman Sendiri Bikin Tidak Nyaman
Kenapa suara kita di
rekaman terdengar “aneh”? Karena biasanya kita mendengar suara sendiri lewat
getaran tulang kepala. Saat direkam, suara terdengar murni dari luar, itulah
yang membuatnya terasa asing.
Saat berbicara, suara dirambat
ke telinga melalui gelombang udara dan juga melalui getaran tulang
tengkorak. Konduksi tulang ini membuat suara terdengar lebih dalam dan
kaya karena memperkuat frekuensi rendah. Namun rekaman yang ditangkap mikrofon
hanya menangkap suara yang merambat melalui udara. Tidak ada getaran
tulang yang ditangkap oleh mikrofon.
Dari pendekatan psikologis
ada ekspektasi dan persepsi diri. Ekspektasi muncul dari terbiasa dengan
suara yang lebih dalam dan kaya berkat konduksi tulang, sehingga ketika
mendengar rekaman hanya konduksi udara, suara itu terasa lebih tipis, tinggi,
atau asing bagi kita.
Dari persepsi diri, kita
sering kali punya ideal self atau
citra diri yang ingin dimiliki, termasuk suara yang merdu. Ketika suara di
rekaman berbeda dari bayangan itu, kita merasa tidak suka atau aneh.
7.
Lapar karena Jam, Bukan karena Perut
Conditioned
Hunger
Tubuh bisa dilatih
merasakan lapar di jam tertentu, meski belum tentu benar-benar butuh makan.
Fenomena ini disebut conditioned hunger.
Tidak heran banyak orang otomatis mencari makanan begitu jarum jam menunjuk
angka 12.
"Lapar karena jam,
bukan karena perut" menjadi faktor kebiasaan atau psikologis, bukan
karena tubuh benar-benar membutuhkan makanan. Penyebabnya bisa karena
kurang tidur, stres, kebiasaan makan yang tidak sehat seperti konsumsi
karbohidrat olahan, kurang serat dan lemak baik, serta dehidrasi. Untuk
mengatasinya, pastikan cukup minum air, istirahat cukup, makan makanan bergizi,
dan kelola stres dengan baik serta pengendalian nafsu.
8.
Pikiran Bisa Bikin Tubuh Sakit
Nocebo
Effect
Stres berlebihan bisa
memicu gejala fisik misalnya sakit kepala, mual, bahkan ruam kulit. Lebih
ekstrem lagi, ada yang disebut nocebo
effect, orang merasa sakit hanya karena percaya ada yang salah, padahal
tubuhnya sehat-sehat saja.
Pikiran dapat
menyebabkan tubuh sakit melalui nocebo
effect sebagai efek negatif yang timbul karena keyakinan dan ekspektasi
buruk seseorang, misalnya terhadap pengobatan atau situasi kesehatan. Ini
terjadi karena pikiran negatif, sugesti, atau ketakutan dapat memicu gejala
fisik yang sebenarnya, seperti mual, sakit kepala, nyeri, atau memperburuk
kondisi yang ada, meskipun pengobatan yang diberikan tidak berbahaya.
Hal ini kebalikan
dengan placebo effect. Contoh
sederhana placebo effect, Seseorang
yang mengalami sakit ringan, sembuh
setelah disuntik dokter, karena ia meyakini bahwa suntik dokter itu sebagai
penyembuh, padahal dokter tersebut cuma memasukkan vitamin*

MasyaAllah menarik sekali topiknya👍🏻
BalasHapus